Pages

Selasa, 29 November 2011

*Kunci Ketenangan: Berserahlah Diri! *.



DEGUB jantung berdebar cepat, ada galau yang menyeruduk galak. Perasaan sedih menyeruak masuk tiba-tiba. Mau marah, karena hati sudah lebam rasanya. Perasaan campur aduk tak karuan, seperti ada sesuatu yang mengoncang jiwa, mengocok kedamaain, dan merampas kenyamanan hati. Ingin rasanya menumpahkan semua gemuruh amarah, gaduh, gelisah, gerah, dan semua rasa yang telah membuat diri tak tenang. Jiwa ini terus berontak kuat, melawan kondisi ketidakbahagian yang terjadi.
Gambaran kegilisahan ini, bisa menghinggapi jiwa setiap orang. Karena setiap orang pasti mengalami penderitaan, kesengsaraan, dan ketidakbahagiaan.

Menderita adalah hal yang paling dihindari oleh manusia. Dan kebahagiaan merupakan dambaan setiap insan. Penderitaan sebagai raut kesedihan mewakili banyaknya masalah hidup yang terjadi. Sedangkan kebahagiaan adalah wajah kedamain dan ketenangan dalam jiwa seseorang. Jadilah kehidupan ini sebagai pergulatan menghidari penderitaan, dan mencari kebahagiaan.

Kebahagiaan juga merupakan kualitas keadaan pikiran atau perasaan yang diisi dengan kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan. Sedangkan penderitaan adalah kumpulan kwalitas negatif perasaan dan pikiran yang mengganggu kedamain jiwa. Para filsuf dan pemikir agama telah sering mendefinisikan kebahagiaan dalam kaitan dengan kehidupan yang baik dan tidak hanya sekadar sebagai suatu emosi.

Saya, Anda dan mereka pasti ingin merengkuh kebahagiaan. Bukankah itu salah satu alasan mengapa kita masih terus hidup hingga saat ini. namun kenyataannya kebahagiaan itu datang dan pergi begitu cepat. sifatnya hanya sementara waktu. pagi Anda bahagia, tapi siang hari dikantor bertemu dengan pekerjaan ruwet, hati pun jadi mumet.

Tapi apakah benar bahagia tidak bisa menjadi hal yang permanen dalam hidup ini?, tentu itu sangat tergantung dengan cara kita menghadapi hidup ini. hidup ini pilihan, jika anda memilih jalan kebenaran, bahagialah yang dicapai, namun jalan salah yang Anda pilih maka sengsaralah yang didapat.

Dalam hidup ini Ada dua tipe manusia ketika mencari kebahagiaan. Pertama, Mereka yang mencari kebahagiaan dengan Kesenangan. Kedua, mereka yang mencari Kebahagiaan dengan Ketenangan.

Pertama, jalan Kesenangan adalah kegembiraan sesaat. Bahagia yang didapat pada tipe ini seperti bahagianya seorang anak kecil. Sebentar menangis sebentar ketawa. Endapan kebahagiannya hanya pada permukaan emosional. Aktivitas yang dipilih biasanya ada lah hiburan. Segala cara ditempuh untuk mendapat gurauan yang bisa membuat hati tertawa. Ketika hati mereka tertawa, maka mereka merasa senang dan bahagia. Namun selang beberapa waktu, kegundahan mereka pun muncul kembali.

Tipe ini mewakili mereka-mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya. Allah berfirman,” ...kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.(al-Imran(3
):185). Tujuan kehidupan orang-orang seperti ini hanya mencari kesenangan dunia. Harta, pangkat, kekuasaan, wanita dan semua kendaraan dunia mereka miliki, kemudian mengeksplorasinya menjadi permainan yang menyenangkan. Mereka menganggap hal-hal seperti itu bisa membahagiakan mereka. Allah berfirman, “ Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka . Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (al-An’am(6):32).

Mereka lalai akan perintah Allah, diakibatkan oleh kesenangan dunia. Allah berfirman,” Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.(al-Baqarah(2):112).

Semakin dalam mereka menikmati dunia, maka akan semakin jauh dari Allah. mereka pun abai atas segala perintahnya. Asyik menikmati dunia membuat mereka tak sempat lagi berfikir tentang nikmat Allah yang telah mereka habiskan. Hal ini pun akan semakin membuat nilai kebahagian itu jauh dari hati mereka. Kehidupan mereka akan terasa sempit dan menjenuhkan. Khawatir, gundah, dan gulanah setiap detik menghampiri perasaaan. Mereka akan sangat menjaga eksistensi keduniaannya dengan berbagai macam cara. Semua jalan ditempuh, tak mengenal halal haram. Allah berfirman: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".(Thoha(20):124).

Iblis pun ikut andil dalam pergulatan hidup mereka dengan mengiming-imingi hal-hal yang manis. Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, yang mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia)” (QS al-An’aam:112). Kesenangan yang mereka lakuakan pun dihias hingga terlihat seperti perbuatan yang baik, meskipun itu sebenarnya adalah hal yang jelek.

Allah berfirman, “Apakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan) lalu ia menganggap perbuatannya itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak diperdaya setan?), maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Faathir:8).

Kesenangan dunia ini adalah kehidupan bagi mereka yang ingkar. Dunia adalah surga bagi orang kafir dan nereka bagi mereka yang beriman. Allah berfirman, “ Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.(al-Baqarah(2):112).

Dunia ini hanyala tempat bersenang-senang dan melalaikan hati. Tempat bermegah-megah dan memperbanyak harta, itulah kesenangan yang melalaikan. Allah berfirman: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(al hadid(57):20).

Sudah menjadi tabiat dasar manusia apabila diberikan kesenangan maka dia akan berpaling dan lalai kepada Allah.” Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.(al-Isra(17);83). Jika datang masalah pada mereka maka akan gampang putus asa, itulah mengapa kebahagiannya mereka cepat pergi dan menghilang.

Kehidupan dunia yang tak secuilpun memberi kebahagian sanubari hati yang paling dalam.Kesenangan dunia akan memberi kebahagian yang sementara, bersifat temporer. Atau dalam bahasa lain disebut kebahagiaan relatif. Kebahagiaan yang tidak bisa disamaratakan kualitasnya dengan orang lain. Disini kebahagian tidak bersifat mutlak adanya. Dia bisa datang dan pergi tanpa kendali manusia. Karena dunia ini sifatnya sementara dan semua bisa direlatifkan disini. maka hukum kebahagiaan yang dilahirkan kesenangan dunia pun relatif adanya.

Inilah kesenangan kehidupan dunia, dan bukan pilihan bagi orang-orang bertakwa. “ Dan perhiasan-perhiasan . Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.(Azzukhruf(43):35). Jelas pilihan bagi seorang mukmin adalah kebahgiaan mutlak dinegeri akhirat.

Kedua, jalan ketenangan adalah merupakan energi hati yang stabil, tidak gampang goyah, goncang, dan goyang ketika badai cobaan datang. inilah jalan kebahagiaan hakiki, diperoleh dari aktivitas hati yang benar. “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS ar-Ra’du:28).

Kebahagiaan yang diraih dengan pada jalan ini adalah kebahagian hakiki yang bersifat mutlak. Karena tidak akan ada lagi galau yang bisa menghalang. Tidak ada lagi derita yang menerpa . jika datang gundah, kekahawatiran, maka akan hilang dengan mengingat Allah. dan semua kesengsaraan didunia ini tidak akan mengganti kebahagiaan hakiki dalam hati mereka.

Hal ini pernah dibuktikan oleh Bilal bin Rabah tetap bahagia dengan mempertahankan keimanannya meskipun disiksa pedih. Imam Abu Hanifah tetap bahagia meskipun dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat jadi hakim Negara. Para sahabat nabi rela meninggalkan kampung halamannya, demi keyakinan yang dianutnya. , Ibnu Taimiyah berkata: “Apa yang diperbuat musuh-musuhku adalah surgaku. Penjara adalah tempatku menyepi. Penyiksaan adalah syahadahku. Pengusiran adalah tamasyaku”.

Dalam kondisi bagaimana pun posisi hati tetap tenang menghadapi masalah yang datang. masalah besar kecil, bahakan pertaruhan nyawa pun tetap tenang. Itulah kebahagian yang mutlak. Kebahagian yang lahir dari hati orang-orang beriman. Hati yang selalu berzikir kepada Allah. hati yang selalu rindu kehidupan akhirat.

Kita pun diminta tuk mencari kebahagiaan akhirat dan dunia. Allah berfirman "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (Qs. Al Qoshos : 77). Dalam ayat ini ditegaskan bahwa kebahagiaan akhirat adalah yang utama. Mencari kebahgiaan dunia hanya seruan sederhana bukan sebuah kewajiban “janganlah kamu melupakan kebahagiaan dunia” artinya ketika kita melupakan kehidupan dunia tak masalah. Karena ketika kehidupan atekhirat yang kita pilih, Insaya Allah dunia pun akan mengikutinya.

Ibnu Taimiyah berkata, “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini”, maka ada yang bertanya: “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?”, Ulama ini menjawab: “Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya”

Sumber kebahagian yang diambil dari jalan ketenangan berasal dari keimanan pada Allah. Orang yang beriman senantiasa selalu bersikap bahagia, apa pun yang terjadi. orang yang beriman selalu bahagia dan tenang terhadap semua peristiwa yang dialami, karena apa pun yang terjadi baik atau buruk pada hakekatnya baik untuk mereka. Rasulullah saw. Bersabda: “Jalan yang ditempuh oleh seorang yang beriman adalah aneh karena ada kebaikan dibalik setiap tindakannya dan ini tidak terjadi pada siapapun kecuali pada seseorang yang beriman karena jika mereka merasa mendapatkan kesenangan dia bersyukur kepada Allah SWT, maka terdapat kebaikan dalam sikapnya itu, dan jika dia mendapatkan permasalahan dia menyerahkannya pada Allah SWT (dan bersabar), maka ada kebaikan dalam sikapnya itu“.(HR.Muslim)

Salah satu kunci kebahgian orang-orang beriman adalah totaliatas Penyerahan diri kepada Allah swt. itu Membawa mereka lebih dekat dan pasrah kepada-Nya dalam situasi apapun dan itu membuat mereka selalu merasa tenang dan bahagia.

“Sungguh berbahagialah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”. (al-Mukmin(23):24). Inilah jalan kebahagian hakiki yang semestinya kita jalani. Dan Jadilah kita pribadi yang memiliki ketenangan hati, Insya Allah akan dipanggil oleh Allah;” Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku”.(alfajr(89):27-30).

Jalan ketenangan iman memberi kebahagiaan tanpa batas. Tak bisa dirusak oleh kesedihan duniawi, kekal bahagianya tak lekang oleh waktu dan Membuat hati terbuka dan luas dalam menerima masalah. Semoga kita menjadi orang yang bahagia karena ketenangan iman, bukan karena kesenangan duniawi.

Amin.
*Ainun Jariyah* (cpt).

*Kunci Ketenangan: Berserahlah Diri! *.


DEGUB jantung berdebar cepat, ada galau yang menyeruduk galak. Perasaan sedih menyeruak masuk tiba-tiba. Mau marah, karena hati sudah lebam rasanya. Perasaan campur aduk tak karuan, seperti ada sesuatu yang mengoncang jiwa, mengocok kedamaain, dan merampas kenyamanan hati. Ingin rasanya menumpahkan semua gemuruh amarah, gaduh, gelisah, gerah, dan semua rasa yang telah membuat diri tak tenang. Jiwa ini terus berontak kuat, melawan kondisi ketidakbahagian yang terjadi.
Gambaran kegilisahan ini, bisa menghinggapi jiwa setiap orang. Karena setiap orang pasti mengalami penderitaan, kesengsaraan, dan ketidakbahagiaan.

Menderita adalah hal yang paling dihindari oleh manusia. Dan kebahagiaan merupakan dambaan setiap insan. Penderitaan sebagai raut kesedihan mewakili banyaknya masalah hidup yang terjadi. Sedangkan kebahagiaan adalah wajah kedamain dan ketenangan dalam jiwa seseorang. Jadilah kehidupan ini sebagai pergulatan menghidari penderitaan, dan mencari kebahagiaan.

Kebahagiaan juga merupakan kualitas keadaan pikiran atau perasaan yang diisi dengan kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan. Sedangkan penderitaan adalah kumpulan kwalitas negatif perasaan dan pikiran yang mengganggu kedamain jiwa. Para filsuf dan pemikir agama telah sering mendefinisikan kebahagiaan dalam kaitan dengan kehidupan yang baik dan tidak hanya sekadar sebagai suatu emosi.

Saya, Anda dan mereka pasti ingin merengkuh kebahagiaan. Bukankah itu salah satu alasan mengapa kita masih terus hidup hingga saat ini. namun kenyataannya kebahagiaan itu datang dan pergi begitu cepat. sifatnya hanya sementara waktu. pagi Anda bahagia, tapi siang hari dikantor bertemu dengan pekerjaan ruwet, hati pun jadi mumet.

Tapi apakah benar bahagia tidak bisa menjadi hal yang permanen dalam hidup ini?, tentu itu sangat tergantung dengan cara kita menghadapi hidup ini. hidup ini pilihan, jika anda memilih jalan kebenaran, bahagialah yang dicapai, namun jalan salah yang Anda pilih maka sengsaralah yang didapat.

Dalam hidup ini Ada dua tipe manusia ketika mencari kebahagiaan. Pertama, Mereka yang mencari kebahagiaan dengan Kesenangan. Kedua, mereka yang mencari Kebahagiaan dengan Ketenangan.

Pertama, jalan Kesenangan adalah kegembiraan sesaat. Bahagia yang didapat pada tipe ini seperti bahagianya seorang anak kecil. Sebentar menangis sebentar ketawa. Endapan kebahagiannya hanya pada permukaan emosional. Aktivitas yang dipilih biasanya ada lah hiburan. Segala cara ditempuh untuk mendapat gurauan yang bisa membuat hati tertawa. Ketika hati mereka tertawa, maka mereka merasa senang dan bahagia. Namun selang beberapa waktu, kegundahan mereka pun muncul kembali.

Tipe ini mewakili mereka-mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya. Allah berfirman,” ...kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.(al-Imran(3
):185). Tujuan kehidupan orang-orang seperti ini hanya mencari kesenangan dunia. Harta, pangkat, kekuasaan, wanita dan semua kendaraan dunia mereka miliki, kemudian mengeksplorasinya menjadi permainan yang menyenangkan. Mereka menganggap hal-hal seperti itu bisa membahagiakan mereka. Allah berfirman, “ Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka . Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (al-An’am(6):32).

Mereka lalai akan perintah Allah, diakibatkan oleh kesenangan dunia. Allah berfirman,” Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.(al-Baqarah(2):112).

Semakin dalam mereka menikmati dunia, maka akan semakin jauh dari Allah. mereka pun abai atas segala perintahnya. Asyik menikmati dunia membuat mereka tak sempat lagi berfikir tentang nikmat Allah yang telah mereka habiskan. Hal ini pun akan semakin membuat nilai kebahagian itu jauh dari hati mereka. Kehidupan mereka akan terasa sempit dan menjenuhkan. Khawatir, gundah, dan gulanah setiap detik menghampiri perasaaan. Mereka akan sangat menjaga eksistensi keduniaannya dengan berbagai macam cara. Semua jalan ditempuh, tak mengenal halal haram. Allah berfirman: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".(Thoha(20):124).

Iblis pun ikut andil dalam pergulatan hidup mereka dengan mengiming-imingi hal-hal yang manis. Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, yang mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia)” (QS al-An’aam:112). Kesenangan yang mereka lakuakan pun dihias hingga terlihat seperti perbuatan yang baik, meskipun itu sebenarnya adalah hal yang jelek.

Allah berfirman, “Apakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan) lalu ia menganggap perbuatannya itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak diperdaya setan?), maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Faathir:8).

Kesenangan dunia ini adalah kehidupan bagi mereka yang ingkar. Dunia adalah surga bagi orang kafir dan nereka bagi mereka yang beriman. Allah berfirman, “ Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.(al-Baqarah(2):112).

Dunia ini hanyala tempat bersenang-senang dan melalaikan hati. Tempat bermegah-megah dan memperbanyak harta, itulah kesenangan yang melalaikan. Allah berfirman: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(al hadid(57):20).

Sudah menjadi tabiat dasar manusia apabila diberikan kesenangan maka dia akan berpaling dan lalai kepada Allah.” Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.(al-Isra(17);83). Jika datang masalah pada mereka maka akan gampang putus asa, itulah mengapa kebahagiannya mereka cepat pergi dan menghilang.

Kehidupan dunia yang tak secuilpun memberi kebahagian sanubari hati yang paling dalam.Kesenangan dunia akan memberi kebahagian yang sementara, bersifat temporer. Atau dalam bahasa lain disebut kebahagiaan relatif. Kebahagiaan yang tidak bisa disamaratakan kualitasnya dengan orang lain. Disini kebahagian tidak bersifat mutlak adanya. Dia bisa datang dan pergi tanpa kendali manusia. Karena dunia ini sifatnya sementara dan semua bisa direlatifkan disini. maka hukum kebahagiaan yang dilahirkan kesenangan dunia pun relatif adanya.

Inilah kesenangan kehidupan dunia, dan bukan pilihan bagi orang-orang bertakwa. “ Dan perhiasan-perhiasan . Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.(Azzukhruf(43):35). Jelas pilihan bagi seorang mukmin adalah kebahgiaan mutlak dinegeri akhirat.

Kedua, jalan ketenangan adalah merupakan energi hati yang stabil, tidak gampang goyah, goncang, dan goyang ketika badai cobaan datang. inilah jalan kebahagiaan hakiki, diperoleh dari aktivitas hati yang benar. “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS ar-Ra’du:28).

Kebahagiaan yang diraih dengan pada jalan ini adalah kebahagian hakiki yang bersifat mutlak. Karena tidak akan ada lagi galau yang bisa menghalang. Tidak ada lagi derita yang menerpa . jika datang gundah, kekahawatiran, maka akan hilang dengan mengingat Allah. dan semua kesengsaraan didunia ini tidak akan mengganti kebahagiaan hakiki dalam hati mereka.

Hal ini pernah dibuktikan oleh Bilal bin Rabah tetap bahagia dengan mempertahankan keimanannya meskipun disiksa pedih. Imam Abu Hanifah tetap bahagia meskipun dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat jadi hakim Negara. Para sahabat nabi rela meninggalkan kampung halamannya, demi keyakinan yang dianutnya. , Ibnu Taimiyah berkata: “Apa yang diperbuat musuh-musuhku adalah surgaku. Penjara adalah tempatku menyepi. Penyiksaan adalah syahadahku. Pengusiran adalah tamasyaku”.

Dalam kondisi bagaimana pun posisi hati tetap tenang menghadapi masalah yang datang. masalah besar kecil, bahakan pertaruhan nyawa pun tetap tenang. Itulah kebahagian yang mutlak. Kebahagian yang lahir dari hati orang-orang beriman. Hati yang selalu berzikir kepada Allah. hati yang selalu rindu kehidupan akhirat.

Kita pun diminta tuk mencari kebahagiaan akhirat dan dunia. Allah berfirman "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (Qs. Al Qoshos : 77). Dalam ayat ini ditegaskan bahwa kebahagiaan akhirat adalah yang utama. Mencari kebahgiaan dunia hanya seruan sederhana bukan sebuah kewajiban “janganlah kamu melupakan kebahagiaan dunia” artinya ketika kita melupakan kehidupan dunia tak masalah. Karena ketika kehidupan atekhirat yang kita pilih, Insaya Allah dunia pun akan mengikutinya.

Ibnu Taimiyah berkata, “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini”, maka ada yang bertanya: “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?”, Ulama ini menjawab: “Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya”

Sumber kebahagian yang diambil dari jalan ketenangan berasal dari keimanan pada Allah. Orang yang beriman senantiasa selalu bersikap bahagia, apa pun yang terjadi. orang yang beriman selalu bahagia dan tenang terhadap semua peristiwa yang dialami, karena apa pun yang terjadi baik atau buruk pada hakekatnya baik untuk mereka. Rasulullah saw. Bersabda: “Jalan yang ditempuh oleh seorang yang beriman adalah aneh karena ada kebaikan dibalik setiap tindakannya dan ini tidak terjadi pada siapapun kecuali pada seseorang yang beriman karena jika mereka merasa mendapatkan kesenangan dia bersyukur kepada Allah SWT, maka terdapat kebaikan dalam sikapnya itu, dan jika dia mendapatkan permasalahan dia menyerahkannya pada Allah SWT (dan bersabar), maka ada kebaikan dalam sikapnya itu“.(HR.Muslim)

Salah satu kunci kebahgian orang-orang beriman adalah totaliatas Penyerahan diri kepada Allah swt. itu Membawa mereka lebih dekat dan pasrah kepada-Nya dalam situasi apapun dan itu membuat mereka selalu merasa tenang dan bahagia.

“Sungguh berbahagialah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”. (al-Mukmin(23):24). Inilah jalan kebahagian hakiki yang semestinya kita jalani. Dan Jadilah kita pribadi yang memiliki ketenangan hati, Insya Allah akan dipanggil oleh Allah;” Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku”.(alfajr(89):27-30).

Jalan ketenangan iman memberi kebahagiaan tanpa batas. Tak bisa dirusak oleh kesedihan duniawi, kekal bahagianya tak lekang oleh waktu dan Membuat hati terbuka dan luas dalam menerima masalah. Semoga kita menjadi orang yang bahagia karena ketenangan iman, bukan karena kesenangan duniawi.

Amin.
*Ainun Jariyah* (cpt).

*Mereka Bersatu, Kita Beradu*.



IbnuTaimiyah secara radikal menegaskan bahwa keberadaan pemimpin yang zhalim masihlebih baik daripada hidup tanpa pemimpin. Selanjutnya beliau mengatakan: Enampuluh tahun di bawah penguasa yang zalim masih lebih baik daripada satu malamtanpa pemimpin.

Bertolakdari persepsi di atas dapat dikatakan, Islam adalah agama yang memberikan pors iperhatian besar pada masalah kepemimpinan. Karena Islam mengandung norma-norma yang tidak bisa ditegakkan dengan sempurna tanpa adanya sistem. Contoh yang kongkrit adalah praktek shalat berjamaah. Kelebihan keutamaan shalat jamaahadalah 27 kali lipat, daripada shalat sendirian. Beliau pernah memberikankecaman terhadap sahabat yang tidak shalat berjama’ah dengan membakar rumahnya,dan shalat seseorang tidak dianggap sempurna, jika ia tinggal berdekatan denganmasjid tetapi tidak shalat di masjid. Kelalaian dalam menegakkan disiplinshalat jamaah, merupakan salah satu indikasi kemunafikan.

Ironisnya,kita mendiskusikan kepemimpinan dalam skup kecil (al imamat ashshughra), dengan penjang lebar, membongkar beragam kitab fiqh dan berbagaimazhabnya, sementara kita mengabaikan problem kepemimpinan yang lebih besar danlebih urgen (al imamat al kubra). Padahal kepemimpinan makro adalah konsekuensi logis dan tindak lanjut dari konsistensi kita dalam penegakan kepemimipinan mikro, shalat jamaah. Kita berlindung dari peringatan RasulullahSaw yang menjelaskan kualitas keshalihan ritual seseorang tidak berimplikasipada keshalihan sosial.

Betapabanyak orang yang mendirikan shalat, tetapi tidak memperoleh sesuatu selainbegadang dan lelah. (HR. Bukhari Muslim).

Celakalahorang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya. (QS. AlMaun : 4-5).

Dalambuku-buku hadits, bab ibadah mahdhah hanya merupakan bagian kecil dari seluruhhadits. Dari dua puluh jilid Fath al Bari, Syarah Shahih Bukhari,hanya empat jilid berkenaan dengan urusan ibadah. Dari dua jilid ShahihMuslim, hadits-hadits ibadah ritual hanya terdapat 1/3 jilid pertama. Demikianpula dalam Musnad Imam Ahmad, Al Kabirnya Thabrani, atau KanzulUmmal, atau kitab hadits manapun.

Yangislami tentu yang seimbang (tawazun) dalam beragama. Disiplin dalam menegakkanjamaah shalat sejatinya melahirkan kepemimpinan umat yang kokoh. Sehinggakehidupan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, hukum merupakanpenjelmaan dari kehendak-kehendak AllahSwt.

MerakitPotensi Umat

Bukankahumat ini kaya dengan orang shalih, ahli ibadah, ilmuwan, konglomerat, politisi?Tidakkah kekayaan alam yang melimpah sengaja dipilih oleh Allah di tempat mayoritas kaum muslimin menetap. Bukankah jumlah umat Islam Indonesia sajalebih besar secara kuantitas dibandingkan dengan seluruh negara Timur Tengah? Namun,sependapatkah kita bahwa umat ini tidak seindah, serapi, sekuat, sehebat dan sekokoh dan sekualitas, seperti statemen Allah dan Rasul-Nya.

RasulullahSaw memprediksikan kondisi umat Islam kelak laksana buih (ghutsa) yang terapung-apung di atas permukaan laut. Ghutsa di sini lebih tepat bermaknasampah jika dianalogikan dengan realitas umat Islam kontemporer, meminjam istilah pakar hadits, DR. Daud Rasyid. Sampah adalah sesuatu yang sengajadibuang karena tidak bermanfaat dan berbau busuk. Kehadirannya tidakmenggenapkan, kepergiannya tidak mengganjilkan. Keberadaannya sama dengan ketidak adanya (wujuduhu ka’adamihi). Mayat-mayat umat Islam yangseharusnya mendapat penghormatan terakhir dengan ibadah ritual yang sakral,kini ibarat bangkai busuk yang tidak menarik perhatian aktifis HAMinternasional.

MohammadIqbal pernah melantunkan dalam doa sajaknya:

Walaupunsatu keluarga kami tak saling mengenal

Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini

Hidupkan lagi ajaran salingmencinta

Ajari lagi kami berkhidmat sepertidulu

Begitulah kenyataan getir umatyang digambarkan oleh pemikir besar Pakistan. Umat ini berisi segudang orang shalih, orang kuat, orang hebat, orang cerdas, orang kaya. Tetapi mereka bagaikan daun-daun yang berguguran diterpa oleh angin zaman. Orang shalih,orang kuat, dan orang hebat belum bisa bersinergis secara integral dengan saudaranya yang sama kualitasnya dalam struktur yang kuat, rapi, dan solid.Sehingga eksistensi umat ini terpojok, tersudut, dan terisolasi dalam percaturanglobal.

Adakah referensi dan fakta yang bisa dipercaya bahwa seseorang itu bisa survive mempertahankan kehidupannya tanpa melibatkan orang lain. Sejarah hidup membuktikan bahwa kitatidak mungkin melakukan segalanya dan mensetting diri kita menjadi segalanya. Dan mustahil kita mengetahui dan menguasai segalanya, apalagi melihat cabang-cabang ilmu pengetahuan dan bidang kehidupan yang kompleks dan berkembang pesat sekarang ini.

Berjamaah

Maka berjamaah adalah kebutuhanfithrah (hajah fithriyah) kita. Manusia adalah makhluk madaniyyun(makhluq sosial), kata Ibnu Khaldun. Berjamaah adalah media yang efektif danefisien untuk merakit beragam potensi dan kekuatan yang berserakan tadi,menjadi bom kekuatan yang sewaktu-sewaktu diledakkan pada momentum zamannya. Kecerdasan individual dipadukan menjadi kecerdasan kolektif.Keshalihan pribadi dilebur menjadi keshalihan jama’i (sosial). Kecerdasaninteraksi interpersonal perlu diimbangi dengan keterampilan bergaul secarakolektif .

Berjamaah adalah kunci suksesmerakit perbedaan, friksi, persepsi, latar belakang, menjadi mudahdisederhanakan. Bahkan dengan berjamaah kita lebih mudah untuk mempertahankankeshalihan pribadi. Karena kita sering berinteraksi dengan orang yangsefikrah dan sehati dengan kita.

Seseorangitu tergantung dengan agama temannya, maka perhatikanlah kepada siapa iaberteman. (HR. Ahmad).

Persoalannya,ternyata orang yang baik itu tidak mudah disatukan. Ternyata menumbuhkan rasacinta di antara kita tidak semudah membalik telapak tangan. Ternyata membangun budaya berjamaah, izin, pamit, mendoakan sesama, bukan pekerjaan yang mudah. Ternyata orang hebat, orang kuat, orang berpotensi tidak selalu bersedia bersandingdengan saudaranya yang sama kuat, hebat, potensinya. Ternyata menjaga aib dankelemahan saudara kita, memerlukan komitmen dan pengorbanan yang tulus. Ternyata berjamaah itu harus menyediakan ruang pada kepribadian kita, keluasan dankelapangan dada, serta sikap berani mengalah demi keutuhan jamaah. Alibin Abi Thalib pernah mengatakan:

??????? ??????? ???????????????? ????? ?????????????????? ?????????? ????? ??????????

(Sayaheran, saya heran atas perselisihan kalian dalam kebenaran dan keutuhan musuhdalam kebatilan).

Betapamudahnya orang-orang kafir mengesampingkan perbedaan tajam di antara mereka untuk memusuhi Islam ini. Sementara alangkah sulitnya kita mengelola perbedaan-perbedaan kecil (furuiyah) yang terjadi di antara kita. Betapa kitafasikh membaca Al-Quran, sama fasikhnya kita mencerca, memaki-maki,menggunjing, memfitnah saudara kita karena perbedaan bidang pekerjaan, profesi,dan perbedaan mazhab. Ada benarnya ungkapan di kalangan gangster mafia :seorang prajurit yang bodoh, terkadang lebih berguna dari pada dua orangjendral yang hebat. Sebab, kata Rasulullah saw: sekalipun ada ketidakcocokan, perbedaan, ia tidak memaafkan kita meninggalkan jama’ah.

Alibin Abi Thalib mengatakan:

?????? ???????????? ?????? ???? ?????? ?????????

(Kekeruhan jamaah jauh lebih baik dari pada kejernihan individu).

Lebih baik banyak jamaah daripada tidak ada sama sekali. Dalam kondisi suka dan tidak suka kepentingan jamaah harus diprioritaskan dan dijunjung tinggi melebihi daripada kepentingan individu dan golongan. Anjuran ini sudah banyak dikutipberbagai hadist.

“Barang siapa membenci dari amirnya sesuatu maka hendaklah dia, sabar atasnya, karena sesungguhnya tiada seorang pun di antara manusia yang keluar dari sulthan sejengkal lalu mati pada keadaan itu, melainkan mati dengan kematian jahiliyah.” (HR. Muslim 12/240).

“Berhimpun(dalam jamaah) itu rahmat dan cerai berai itu siksa.” (HR.Ahmad)

“Barang siapa meninggalkan jamaah sejauh sejengkal maka seolah-olah seperti melepaskan taliikatan Islam dari lehernya.” (Fathul Bari 13 : 7).

??????? ????????? ??? ???????? ????? ?????? ?????????? ??????? ?????????? ?????? ??????????? ?????????? ???????????? ,???????????? ?????????????? ?????????? ???????? ????????? ????????????

“Tidaklahdari tiga orang di suatu negeri, tidak juga di suatu kampung yang ditengah-tengah mereka tidak ditegakkan shalat (berjamaah), melainkan syetan mengalahkan mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena sesungguhnya serigala itu hanyalah memangsa domba yang jauh dari rombongannya.” (ShahihulJami’ Ash Shaghir : 5577).

“Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mu’min yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad),mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepadasiapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untukmereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.An Nur : 62).

Marikita bermuhasabah secara radikal dan kritis, benarkah kegiatan keislaman kita selama ini mengarah pada keutuhan hidup berjamaah. Benarkah ibadah ritual kita menjadikan kita sosok yang shalih sosial. Benarkah puasa, haji kita melahirkan kepekaan sosial. Betulkah bahwa ibadah serimonial ritual kita melahirkan amal shalih yang membumi. Kita tidak mengharapkan seperti makhluk Allah, Iblis.Semula ia termasuk ahli surga, kualitas ibadahnya yang melebihi rata-rata dibandingkan penduduk surga yang lain (meminjam istilah dalam tafsir AshShowi), tetapi menjadikan dirinya egois dan individualis, sehingga tidak mengakui kepemimpinan Nabi Adam. Iman yang tidak melahirkan amal jama’i sama jeleknya dengan amal yang tidak berlandaskan iman.

Mampukah kita menjadi orang shalih, kuat, hebat, tetapi mudah menyatu dengan saudara kita yang sama-sama shalih, kuat, dan hebat? Relakah popularitas kita dicatut untuk memberikan rasa bahagia kepada sesama? Siapkah kita melepas posisi penting kita dengan ridho jika kepemimpinan memutuskan untuk itu, sebagaimana panglima Khalid bin Walidmenyerahkan jabatannya dengan sam’naa wa ‘atha’na kepada penggantinya yang lebih yunior Abu ubaidah atas instruksi Umar bin Khathab.

Alangkah ironisnya jika cita-cita awal harakah kita ingin mewujudkan kehidupan yang baiksecara individu (hayatan thayyibah), keluarga yang Islami (usrah islamiyah),desa yang diberkahi (qoryah mubarokah), negeri yang aman (baladan aminan), dannegeri makmur penuh ampunan Tuhan (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur),iqomatul khilafah (menegakkan khilafah), terserang penyakit dari dalam, sepertiyang terjadi pada komunitas Yahudi.

????? ????? ???? ?????? ????? ??????? ???

“Permusuhandi antara mereka sangat hebat, kamu sama mengira mereka itu bersatu sedang hatiberpecah belah” (QS. Al Hasyr : 14).

Mereka(Yahudi) bersama tetapi tidak bekerjasama. Secara fisik bersatu, tetapi tidakada keakraban hati. Mereka tidak berkumpul, tetapi hanya berkerumun. Sepertipara penumpang di kendaraan umum, mereka duduk bersama, tetapi memiliki tujuanakhir yang berbeda. Apakah kita di antaranya? Na’uzhu billah.

*Ainun Jariyah*.(cpt).

*Dakwah Jalan Terus, Hidayah Haknya Allah*.



إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين
“Sungguh engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash [28]: 56)
Muqaddimah

Sebab turunnya ayat ini berkenaan dengan peristiwa kematian Abu Thalib bin Abdul Muththalib pada tahun ke-10 masa kenabian di Makkah. Dalam kitab Tafsir at-Thabari diceritakan, ketika itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat terpukul dan bersedih hati. Di hadapan Nabi, Abu Thalib yang juga saudara ayahnya, Abdullah bin Abdul Muththalib, harus meninggal dunia tanpa mampu mengucapkan kalimat tauhid, sebuah kalimat persaksian akan keesaan Allah Ta’ala.

Kesedihan Nabi itu bisa dipahami, karena selama ini sang pamanlah yang banyak memberi dukungan atas perjuangan Nabi pada awal masa keislaman di kota Makkah. Tak hanya sokongan materi, namun yang paling terasa adalah berkali-kali Abu Thalib menjadi “tameng” atas diri Nabi dalam menghadapi makar jahat para tokoh kafir Quraisy Makkah masa itu.
Makna Ayat
Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang modal dasar dalam melakukan suatu perbuatan dalam kehidupan ini. Tidak lain modal dasar itu bernama keimanan. Keimanan adalah harga mati yang harus ada ketika seseorang ingin hidup bahagia di dunia terlebih di akhirat nanti. Keimanan tidak bisa ditawar dengan suatu apa pun juga, meski ia datang dengan setumpuk kebaikan pada orang lain.

Apa yang terjadi pada diri Abu Thalib adalah potret nyata ending suatu perbuatan yang dibungkus tanpa menyertakan keimanan. Ketika Abu Thalib berbuat baik pada kaum Muslimin tanpa didasari dengan kalimat tauhid, maka kebaikannya hanya melekat seumur ia hidup di dunia saja. Tanpa bisa menolong dirinya pada Yaum al- Hisab (Hari Pembalasan) nanti. Kebaikan Abu Thalib hanya bisa dikenang sebagai perbuatan baik di mata manusia, bukan sebagai amalan saleh di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Indikasi keberhasilan suatu perbuatan tidaklah diukur dengan banyaknya pujian yang mengalir. Ia tidak didasarkan pada riuh rendah tepukan tangan. Namun, standar keberhasilan amalan seseorang semata berdasar pada keikhlasan ia berbuat, sebagai buah dari keimanan dalam dirinya. Keimanan itu pula yang menjadikan amalannya senantiasa mengikuti contoh yang telah dilakonkan oleh Rasulullah beserta para sahabatnya terdahulu.

Ahsanu Amalan
Abdurrahman as-Sa’di dalam kitabnya, Tafsir Karim ar-Rahman fi Kalam al-Mannan mengomentari “ahsanu amalan” (amalan yang terbaik) dengan berkata, “Amalan yang dimaksud adalah perbuatan yang didasari keimanan dan paling ikhlas serta paling benar (sebagaimana dicontohkan) perilaku Nabi dan para Sahabat.”
Bagi seorang yang mengaku aktivis dakwah, hal ini -ahsanu amalan- mutlak dimiliki dan terus dipertahankan. Sebab, Allah Ta’ala ingin melihat mujahadah dan kerja keras seorang hamba-Nya. Seorang juru dakwah dituntut untuk terus berkreasi dalam memperjuangkan dakwah dan bersungguh-sungguh menyebarkan kebaikan kepada orang lain. Namun, Allah tak pernah meminta dan menentukan hasil yang harus dicapai dalam dakwah tersebut.

Kesedihan yang melanda pada diri Rasulullah adalah hal yang sangat wajar. Namun rupanya Allah tidak ingin Nabi lalu kecewa karena usahanya yang “tidak berhasil” mengislamkan pamannya. Mutiara ibrah ini mengajarkan kepada kita semua, seorang mukmin yang telah menyandarkan perbuatannya secara ikhlas kepada Allah. Bersungguh-sungguh dalam berbuat adalah bentuk tawakkal yang sesungguhnya. Maka sosok mukmin seperti itu tak pantas untuk kecewa dan berkecil hati. Sebab curahan hidayah adalah hak mutlak Allah, tanpa ada campur tangan hamba di sana.

Keikhlasan dalam melakukan pekerjaan senantiasa melahirkan kejernihan hati dan pikiran serta dada yang lapang. Kelapangan hati ini menjadi hiasan yang sangat indah dalam perbuatan. Meski ia harus bergulat dengan segala tantangan yang ada. Meski terkadang usaha tersebut tidak sepi dari cemoohan dan suara-suara yang antipati dan tidak setuju.

Hak Allah
Dalam ajaran Islam, hidayah terbagi dua macam. Pertama, hidayah ad-dilalah. Hal ini diperuntukkan bagi orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Dengannya mereka lalu mendapatkan pemahaman dan pencerahan akan suatu kebaikan.

Kedua, hidayah at-taufiq. Jenis hidayah ini berupa hidayah untuk memberi petunjuk. Ia mutlak dikuasai oleh Allah tanpa ada campur tangan manusia sedikit pun di dalamnya. Tidak oleh para Nabi dan Rasul sekalipun atau para malaikat sebagai makhluk-Nya yang terdekat.

Kisah tragis yang menimpa Abu Thalib saat kematiannya juga menyisakan pesan tersirat akan hakikat kehidupan dunia. Suatu kehidupan yang tidak pernah menyisakan kata henti untuk pertarungan abadi, antara al-haq (kebenaran) melawan al-bathil (kemungkaran).

Imam at-Thabari menceritakan dalam tafsirnya, ketika Abu Thalib sedang dalam kondisi sakarat menjemput kematiannya, Nabi masuk menemui Abu Thalib di pembaringan. Rupanya di sisi pembaringan Abu Thalib telah menunggu Abu Jahl bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah, perwakilan tokoh Kafir Quraisy.

Dengan penuh kesabaran, Nabi lalu berupaya membujuk dan menuntun pamannya mengucapkan kalimat tauhid. Namun usaha tersebut langsung disergah oleh Abu Jahl seraya berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah engkau rela meninggalkan agama nenek moyang kita yang telah turun temurun diyakini oleh kita semua?”
Alhasil –qaddarallahu- Abu Thalib meninggal dunia tanpa sempat mengucapkan syahadat. Sebuah pukulan telak bagi Nabi yang berusaha menyelamatkan pamannya saat itu.

Sungguh suatu pertarungan aqidah yang sangat dahsyat. Pergumulan sejati yang menjadi simbol kehidupan manusia. Setiap ada upaya kebaikan, niscaya ada-ada saja orang yang tidak senang akan perbuatan itu. Halangan dalam menegakkan dakwah dan agama menjadi sebuah keniscayaan dalam perjuangan ini. Orang yang ingin menyebarkan kebaikan berarti telah siap menghadapi tantangan. Namun, seorang dai tidak akan mundur dengan aral yang melintang tersebut, sebab ia telah sadar seperti itulah risiko di dalam menyebarkan dakwah dan agama ini.

Yang dibutuhkan hanyalah kesabaran serta kemampuan mengatasi masalah tersebut. Sedang kesabaran itu berbanding lurus dengan bobot keikhlasan seseorang kepada Allah Ta’ala. Semakin seseorang ikhlas semakin ia merasakan kekuatan dari kesabarannya. Sebaliknya ketika modal keikhlasan itu mulai terkikis, dengan sendirinya ia sibuk berkeluh kesah. Alih-alih berpikir
menyelesaikan masalah, ia malah mulai menyalahkan orang lain. Menuding kesana-kemari sambil mencari siapa lagi yang bisa dikambing hitamkan.

*Ainun Jariyah*.(cpt)

*Sandarkan pada Allah Semata, Titik! *.


TIADA keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai.

Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, "Faalhamaha fujuraha wataqwaaha".

"Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan". Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah.

Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya kepada Allah mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Sebab, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan terguling, akan terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi, takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yang panik dalam kehidupan ini karena dia bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandaran-sandaran yang lainnya.

Alkisah, ada seorang dosen ternama di Surabaya yang memiliki seorang istri dan tiga orang anak. Saat itu, posisi karir sedang naik. Semua fasilitas dimilikinya. Jabatan, fasilitas dan kelebihan lainnya.

Tapi takdir menentukan lain. Allah memanggilnya di usia muda. Saat itu pula perubahan besar terjadi pada keluarganya. Sang istri terpaksa merangkap tanggungjawab. Menjadi ibu, sekaligus menjadi “ayah” untuk menafkahi ketiga anaknya. Sedang si anak mengalami “kekagetan” luar biasa. Dari awal yang dimanja fasilitas, kini, mereka semua harus memulainya dari nol. Sesuatu yang maha berat.

“Seolah hancur harapanku ketika orang yang menjadi sandaran hidupku telah tiada lagi, “ begitu ujar sang istri.

Padahal, semua yang kita sandari sangat mudah bagi Allah, atau akan ‘sangat mudah sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, "laa khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya Allah. Jabatan diambil, tak masalah, karena jaminan dari Allah tidak tergantung jabatan, kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka, kalau kita bergantung pada kedudukan atau jabatan, kita akan takut kehilangannya. Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan terkadang sikap kita jadi jauh dari kearifan.

Tapi bagi orang yang bersandar kepada Allah dengan ikhlas, ia hanya mengatakan, “Ya silahkan ... buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak mendekatkan kepada Allah, tidak membuat saya terhormat dalam pandangan Allah.”
Tak masalah jabatan kita kecil dalam pandangan manusia, tapi besar dalam pandangan Allah karena kita dapat mempertanggungjawabkannya.
Tidak apa-apa kita tidak mendapatkan pujian, penghormatan dari makhluk, tapi mendapat penghormatan yang besar dari Allah SWT. Percayalah walaupun kita punya gaji 10 juta, tidak sulit bagi Allah sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji 15 juta, tapi apa artinya jika Allah memberi penyakit seharga 16 juta, sudah tekor itu.

Oleh karena itu, jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada tabungan. Punya tabungan uang, mudah bagi Allah untuk mengambilnya. Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengganti dan lebih besar dari tabungan kita. Demi Allah, tidak ada yang harus kita gantungi selain hanya Allah saja. Punya bapak seorang pejabat, punya kekuasaan, mudah bagi Allah untuk memberikan penyakit yang membuat bapak kita tidak bisa melakukan apapun, sehingga jabatannya harus segera digantikan.

Punya suami gagah perkasa. Begitu kokohnya, lalu kita merasa aman dengan bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi Allah membuat sang suami muntaber, akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan muntaber. Atau Allah mengirimkan nyamuk Aides Aigepty betina, lalu menggigitnya sehingga terjangkit demam berdarah, maka lemahlah dirinya. Jangankan untuk membela orang lain, membela dirinya sendiri juga sudah sulit, walaupun ia seorang jago beladiri karate.

Otak cerdas, tidak layak membuat kita bergantung pada otak kita. Cukup dengan kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala bagian belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati.

Semakin kita bergantung pada sesuatu, semakin diperbudak. Oleh karena itu, para istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah pemberi rizki, suami hanya salah satu jalan rizki dari Allah, suami setiap saat bisa tidak berdaya. Suami pergi ke kantor, maka hendaknya istri menitipkannya kepada Allah.

"Wahai Allah, Engkaulah penguasa suami saya. Titip matanya agar terkendali, titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi kami, tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan keadaan jatah rizkinya yang barokah, tapi kalau tidak ada jatah rizkinya, tolong diadakan ya Allah, karena Engkaulah yang Maha Pembuka dan Penutup rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal shaleh."

Insya Allah suami pergi bekerja di back up oleh doa sang istri, subhanallah. Sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menyandarkan dirinya hanya kepada Allah. "Wamayatawakkalalallah fahuwa hasbu"

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At Thalaq [65] : 3).

Yang hatinya bulat tanpa ada celah, tanpa ada retak, tanpa ada lubang sedikit pun ; Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada Allah, maka bakal dicukupi segala kebutuhannya. Allah Maha Pencemburu pada hambanya yang bergantung kepada makhluk, apalagi bergantung pada benda-benda mati. Mana mungkin? Sedangkan setiap makhluk ada dalam kekuasaan Allah. "Innallaaha ala kulli sai in kadir".

Oleh karena itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin banyak
kecewa. Sebab yang kita gantungi, "Lahaula wala quwata illa billaah" (tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendak Allah). Maka, sudah seharusnya hanya kepada Allah sajalah kita menggantungkan, kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak kepada yang lain, itulah TAUHID.*

*Ainun Jariyah*

*Amal Sholeh, Cara Cerdas Raih Khusnul Khotimah *.



SIAPA yang tidak ingin hidup bahagia di dunia dan selamat di akhirat? Semua orang pasti mendambakannya. Tak hanya orang beriman saja, bahkan orang tak beragama dan para penjahat-pun, kadang juga memilih mati dalam keadaan baik.

Lihatlah kaos-kaos menyesatkan yang sering digunakan anak-anak muda bertuliskan, “Muda Foya-foya, Tua Kaya-rya, Mati Masuk Surga”. Meski hanya sebatas kaos, sesungguhnya pesan ini telah banyak mempengaruhi jiwa dan pikiran banyak orang, terutama anak-anak muda kita.

Karena itulah, Dr Nurcholis Madjid dalam sebuah forum pernah menanggapi slogan yang sering dijadikan kaos anak-anak muda itu dengan mengatakan, “tak ada yang gratis dalam hidup. Apalagi mau masuk surga.”

Perilaku seperti itu menandakan masih banyak di antara kita yang belum memahami dengan benar arti waktu dan arti hidup yang sebentar ini.

Orang bisa bahagia luar biasa karena kesigapannya mengatur waktu, dan orang bisa menyesal luar biasa karena kelalaiannya terhadap waktu. Jadi, benarlah ungkapan pepatah Arab, bahwa “waktu adalah pedang”.

"L'uomo misura il tempo e il tempo misura l'oumo". Manusia mengukur waktu dan waktu mengukur manusia, “ ujar sebuah pepatah Italia.

Sayangnya tidak setiap Muslim benar-benar mempersiapkan diri dan paham arti hidup.

Sebagian masih sebatas mengetahui kemudian lalai terhadapNya. Sebagian lain tidak lalai namun terkesan apa adanya. Padahal aksioma yang tak terbantahkan suatu saat, entah kapan, kita pasti akan menemui kematian.

Bagi orang yang beriman masih beruntung karena dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah. Tetapi bagi mereka yang kafir dan munafiq, sungguh akhirat adalah tempat yang tak pernah mereka harapkan. Sebab di akhirat mereka tak henti-henti minta ampun dan menyesal sejadi-jadinya karena gagal mengisi waktu di dunia dengan menunaikan amal-amal sholeh.

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِي
وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?"

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. 63: 10 – 11).

Tanda Surga

Untuk mengetahui apakah nanti kita akan masuk surga atau tidak, tentu tidak ada jawaban pastinya. Namun Rasulullah saw memberikan pedoman bagi umat Islam bagaimana cerdas mengelola waktu, sehingga bisa mengenali tanda-tanda seorang Muslim mendapatkan surga.

Satu tanda bahwa seorang Muslim akan masuk surga ialah meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Artinya seorang Muslim meninggal dalam keadaan baik (ibadah kepada Allah).

Bisa dalam keadaan mendirikan sholat, dzikir, menghadiri majlis ilmu, atau dalam kegiatan atau perjalanan yang diridhai Allah dan rasul-Nya.

Sebaliknya ialah su’ul khotimah. Keadaan di mana seorang Muslim meninggal dalam keadaan tidak baik. Seperti; meninggal saat berjudi, berzina, mencuri, kikir, korupsi, atau sedang menjerumuskan diri dalam berbagai bentuk kemaksiatan dan kedholiman.

Dalam sejarahnya, tak satu pun manusia yang bisa mengetahui apakah dirinya bisa mati dalam keadaan khusnul khotimah atau su’ul khotimah. Hal ini tiada lain agar kita, sebagai seorang Muslim, benar-benar waspada dalam pemanfaatan waktu. Jangan sampai terlena oleh gemerlap dunia, sehingga lupa akan akhirat dan kemudian mati dalam keadaan su’ul khotimah.

Prioritaskan Amal Sholeh

Dalam sebuah hadis rasulullah saw bersabda, “Orang yang cerdas ialah orang yang menahan hawa nafsunya dan berbuat (amal sholeh) untuk (bekal) kehidupan setelah mati.” (HR. Turmudzi).

Mengapa kriteria orang cerdas dalam Islam seperti itu? Sebab setiap manusia akan menemui kematian. Orang yang paling siap menghadapi kematian dengan memperbanyak amal sholeh jelas orang yang akan bahagia. Dan, siapa orang yang mempersiapkan dirinya untuk meraih kebahagiaan tentu ia adalah orang yang paling beruntung.

Oleh karena itu, al-Qur’an dalam sebuah ayat memberikan satu kriteria lengkap dan jelas bahwa yang dimaksud orang yang berakal (berilmu, cerdas) adalah ulul albab. Yaitu orang yang senantiasa mengisi waktunya dengan dzikir dan fikir agar mendapat keridoan-Nya. (QS. 3: 190 – 191).

Itulah orang yang memiliki keimanan yang kokoh, melakukan perbuatan-perbuatan besar, cerdas (berilmu), dan termasuk orang-orang yang diridhoi oleh Allah untuk meraih kebahagiaan dengan anugerah besar berupa akhlak yang mulia.

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ
إِنَّا أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ
وَإِنَّهُمْ عِندَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ

"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik." (QS. As Saad: 45-47).

Dengan demikian jelaslah bagi kita untuk mengerti dengan sebenarnya, apakah kita termasuk orang yang cerdas atau tidak. Jika kita ingin cerdas, maka hendaklah kita mencontoh perilaku para kekasih Allah (Nabi dan Rasul). Yaitu senantiasa menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, beramal sholeh, dan berorientasi terhadap kehidupan akhirat. Itulah perkara besar yang harus diutamakan, bukan yang lain.

Langkah tersebut akan memberikan dampak positif luar biasa, baik ketika di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, yang tidak cerdas akan mengalami penyesalan luar biasa.

حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) . Maksudnya: orang-orang kafir di waktu menghadapi sakratil maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat beriman.

Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu’minun: 99 – 100).

Waspadai Akhir yang Buruk

Bagaimana agar kita bisa meninggal dalam keadaan khusnul khotimah? Tentu tidak ada jalan lain selain waspada dan konsisten mengisi sisa umur yang kita miliki untuk kebaikan-kebaikan dunia maupun akhirat.

Dengan kata lain kita tidak boleh terlampau santai menyikapi waktu yang kita miliki apalagi merasa umur masih cukup panjang, sehingga suka meremehkan perbuatan dosa dan bangga berbuat maksiat.

Anas ra, pernah bertutur, "Sesungguhnya, kalian melakukan perbuatan-perbuatan yang menurut kalian lebih kecil dari rambut. Padahal kami pada zaman rasulullah saw, sudah menganggapnya sebagai dosa yang membinasakan (dosa besar)." (HR. Bukhari).

Apabila hal itu terjadi maka sirnalah fungsi hati seorang Muslim. Ibn Atha’illah dalam sebuah nasehatnya menyatakan bahwa, di antara tanda matinya hati adalah tidak bersedih atas ketaatan yang terlewat dan tidak menyesal atas dosa yang diperbuat.

Oleh karena itu sebagai upaya waspada kita terhadap akhir yang buruk (su’ul khotimah) hendaknya setiap hari kita melakukan evaluasi terhadap keyakinan kita. Apakah keyakinan yang ada di dalam hati ini telah bersih dari titik-titik keraguan. Jika masih ada keraguan segeralah membersihkannya.

Selanjutnya ialah memeriksa tabiat diri. Apakah kita sudah terbebas dari panjang angan-angan dan gemar menyegerakan kebaikan? Sebab satu faktor utama manusia enggan beramal sholeh dikarenakan panjangnya angan-angan. Akibatnya sebagian besar malah suka menunda-nunda untuk taubat dan akhirnya meninggal dalam keadaan yang sangat buruk.

Jadi, mulai sekarang marilah biasakan diri untuk memperkuat iman, meneguhkan hati untuk konsisten beramal sholeh, dan waspada untuk tidak berbuat dosa. Sebab kita tidak pernah tahu kapan ajal menemui kita.

Dengan cara itulah, insya Allah kita akan tergolong manusia yang cerdas menurut nabi dan insya Allah akan meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dan mendapat keridoan-Nya, amin. Wallahu a’lam.*/Imam Nawawi

Keterangan: Sebuah peristiwa yang pernah terjadi di Saudi, seseorang meninggal saat beribadah dan sujud di waktu shalat


*Ainun Jariyah*.(cpt).

*Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Peristiwa Muharram? *.



TIGA belas tahun di Makkah, bukanlah waktu yang singkat yang dijalani Rasulullah dan para sahabatnya dalam berdakwah terlebih karena dakwah itu tidak sama atmosfernya seperti sekarang ini. Jika sekarang di Indonesia, orang-orang sudah bisa dengan cukup leluasa mengekspresikan keislamannya, maka tidak demikian halnya Rasulullah dan para sahabat dahulu. Mereka harus menghadapi boikot, penolakan, cemoohan, fitnahan, ancaman pembunuhan, hingga siksaan fisik saat mengekspresikan keimanannya.

Dahulu, kaum Muslimin di Makkah adalah golongan minoritas. Minoritas dalam hal kuantitas maupun sumberdayanya. Minoritas pula dalam hal kekuatannya. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah dan sahabatnya belum mampu berbuat banyak ketika keluarga Yasir disiksa.

Isteri Yasir, dan Yasir sendiri akhirnya menemui syahid mempertahankan keislaman mereka. Namun kurun 13 tahun itulah periode pematangan dakwah, hingga akhirnya suatu hari mereka (kaum Muslimin) menjadi sebuah kekuatan raksasa, tidak hanya untuk ukuran chiefdom seperti Makkah, tapi juga raksasa untuk ukuran kingdom seperti Romawi dan Persia. Lalu apa yang menjadi titik balik perubahan mereka? Benar sekali, peristiwa Hijrah!

Hijrah menandai awal dari fase perubahan kaum Muslimin ke arah yang lebih baik dan digdaya. Peristiwa ini, jika dilihat dari perspektif teorinya Malcolm Gladwell, menjadi sebuah tipping point lahirnya kekuatan kaum Muslimin. Masyarakat muslim Makkah pindah menuju Madinah, tempat yang dihuni Muslimin lainnya untuk membentuk sebuah koloni baru dengan atmosfer dan kondisi sosial yang lebih baik tentunya. Kepindahan itu setidaknya menyiratkan satu hal, yakni sikap proaktif untuk keluar dari zona status quo yang mengekang.

Kaum Muslimin pada saat itu tak boleh terus tertindas, tak boleh terus terjajah. Patut diakui bahwa pada saat itu tak sedikit kaum Muslimin yang sebenarnya berada pada posisi aman karena punya kedudukan sosial yang dihormati plus ekonomi yang mapan. Sebutlah misalnya Abu Bakr, Saad bin Abi Waqash, dan Utsman bin Affan. Namun kondisi aman itu tak membuat mereka stagnan dan mempertahankan status quo. Saat ada perintah hijrah, para konglomerat itu tak segan-segan meninggalkan hartanya dan mengambil resiko untuk memulai semuanya dari nol lagi. Alih-alih mementingkan diri sendiri, ada sebuah solidaritas sosial yang menuntut untuk memperhatikan muslim lainnya yang tak seberuntung mereka.

Dalam peristiwa hijrah, ada fenomena luar biasa di mana dua masyarakat yang terpisah begitu jauh, muhajirin dan anshor, yang punya perbedaan suku dan latar belakang serta kebiasaan, mampu bersatu membentuk sebuah komunitas baru yang utuh hanya dalam waktu sekejap. Ya, hanya sekejap. Saat itu dua orang yang bahkan tak saling mengenal mampu berbuat layaknya orang yang sudah bersahabat puluhan tahun.

Dalam hal itu, kisah Sa’ad bin Rabi dan Abdurrahman bin Auf mungkin menjadi kisah yang cukup legendaris. Ketika Abdurrahman bin Auf datang ke Madinah dan dipertemukan dengan Sa’ad, Sa’ad pun berujar bahwa ia memiliki beberapa petak tanah dan rumah. Sa’ad meminta Abdurrahman untuk memilih petak tanah dan rumah yang ia sukai karena Sa’ad hedak memberikannya secara cuma-cuma. Bahkan Sa’ad yang memiliki dua isteri pun berujar pada Abdurrahman yang lajang untuk memilih satu dari dua isterinya itu agar ia bisa menceraikannya dan menikahkannya pada Abdurrahman.

Namun Abdurrahman ternyata bukan sosok pragmatis yang aji mumpung sebagaimana para pejabat kita saat ini. Abdurrahman justru dengan lembut menolak penawaran Sa’ad dan lebih memilih untuk ditunjukkan saja jalan ke pasar agar ia dapat berniaga. Kisah ini mewakili fenomena unik dalam sebuat masyarakat yang mampu koheren sebegitu kuat dalam waktu cepat. Tak ada hal lain yang mendasari koherensi secepat dan sekuat itu selain kesamaan iman mereka, Islam
Tidak heran kemudian jika persaudaraan yang sudah begitu erat sejak awal mampu menjadi tumpuan kekuatan dalam sektor ekonomi, politik, hingga hankam. Salah satu puncak dari kekuatan itu ditunjukkan oleh kemenangan kaum Muslimin pada perang Badr kubra serta penaklukkan Makkah, negeri yang dahulu menindas mereka. Maka benar kiranya pernyataan almarhum KH Zainudin MZ bahwa jika kita menghendaki kemenangan, maka perlu kekuatan. Jika kita menghendaki kekuatan, maka perlu persatuan. Itu artinya jika kaum Muslimin hendak mengembalikan kejayaannya, maka persatuan menjadi sesuatu yang mutlak ada. Selama kaum Muslimin masih terganggu oleh perpecahan sektarian, mazhab, harokah dan tak mampu bersinergi satu sama lain, maka selama itu pula lah kaum Muslimin akan lemah dan kalah.

Kesuksesan maupun efek peristiwa hijrah bukanlah hasil dari aktivitas yang dilakukan secara acak melainkan dilakukan dengan penuh strategi dan kecerdikan. Itu ditandai sejak awal perjalanan ketika Mus’ab bin Umair beserta beberapa orang sahabat yang cerdas diperintahkan Rasulullah untuk datang ke Madinah. Mereka datang beberapa bulan sebelum hijrah akbar dilaksanakan untuk berdakwah di sana, menyebarkan kabar gembira, dan membuat kondisi sekondusif mungkin untuk tempat bernaung kaum Muslimin. Kecerdikan berikutnya diperlihatkan ketika Ali bin Abi Thalib menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidur. Saat kabar tentang hijrah kaum Muslimin didengar oleh kaum musyrikin Makkah, mereka pun bergegas mengepung kediaman Rasulullah untuk mencegah beliau keluar dari Makkah.
Mereka mengawasi dan memastikan bahwa beliau masih di dalam rumahnya.

Beberapa lama ketika tak melihat Rasulullah keluar, mereka pun masuk ke dalam rumah dan ternyata mendapati Ali yang tengah ada di sana, bukan Rasulullah. Rasulullah ternyata sudah pergi sebelumnya bersama Abu Bakr. Tak sampai di situ, kecerdikan berikutnya pun terlihat dari siasat Rasulullah yang menggunakan rute memutar untuk sampai ke Madinah. Madinah ada di utara Makkah, namun Rasulullah menempuh jalan lewat selatan Makkah dan baru memutar ke utara setelah melalui Gua Tsur. Ini bentuk pengelabuan yang cerdas terhadap orang-orang musyrik Makkah yang tergesa-gesa mengejar beliau.

Tiga kecerdikan di atas setidaknya mampu mewakili pesan yang tersirat bahwa kaum Muslimin sebenarnya dituntut untuk cerdas mengelola situasi dan punya perencanaan yang matang. Kaum Muslimin tidak layak menjadi kaum yang bodoh dan mengabaikan kecerdasan. Semakin cerdik kaum Muslimin mengelola situasi, semakin baik pula hasil yang ditemui.

Peristiwa 1 Muharram 1433 tahun yang lalu juga mengingatkan kita bahwa hijrah menjadi pembuka identitas kaum Muslimin terkait waktu dan penanggalan. Peristiwa hijrah menandai awal tahun qomariyah yang sekarang juga dikenal dengan tahun hijriyah.

Sebelumnya, tidak ada kalender khusus bagi kaum Muslimin. Namun seiring berjalannya waktu kaum Muslimin pada saat itu menganggap penting adanya sebuah sistem penanggalan yang independen. Independen dalam arti mampu digunakan kaum Muslimin, tidak hanya sebagai acuan waktu ibadah, puasa, haji, dan sebagainya namun juga sebagai sebuah identitas yang menunjukkan bahwa kaum Muslimin adalah sebuah masyarakat besar.

Yang terjadi saat ini adalah masyarakat muslim masih cenderung abai terhadap identitas waktu tersebut. Meski tidak ada salahnya menggunakan sistem penanggalan Masehi, penggunaan sistem penanggalan hijriyah sudah patut desemarakkan dan akan lebih baik lagi jika dipakai secara luas. Hal ini dalam rangka memperkuat identitas kaum Muslimin disamping penanggalan tersebut juga terkait dengan waktu ibadah yang terinternalisasi dalam ajaran Islam. Analoginya, sistem penanggalan hijriyah ibarat bahasa Arab dalam Islam. Bahasa Arab lah yang digunakan untuk memahami sumber otentik Islam dan dan sistem penanggalan hijriyah-lah yang digunakan untuk mengaktualisasikan konsep waktu dalam Islam. Maka momen 1 Muharram menjadi momen yang cukup baik untuk memaknai dan menggembirakan kembali penggunaan penanggalan Islam.*

*Ainun Jariyah*

Senin, 28 November 2011

* Ingin Dapat Rahmat? Jadilah Pribadi Santun *.



KERAS hati, pemarah, pendendam dan pendengki merupakan sikap yang lahir karena ketidakberdayan akal dan kesadaran, melawan dorongan nafsu yang selalu dikobarkan oleh Setan. Akibatnya kekuatan iman perlahan-lahan terus mengalami kemunduran. Jika ini terjadi secara terus-menerus, sungguh rahmat Allah mustahil akan menemani hidup kita.

Pada dasarnya setiap manusia sangat berpotensi terjebak oleh rayuan Setan. Oleh karena itu, Allah mengajarkan kepada umat Islam untuk pandai-pandai mengendalikan nafsu. Sebab bagi siapa yang gagal mengendalikan nafsunya bisa dijamin ia akan menjadi sosok manusia yang dibenci, dijauhi, bahkan dimusuhi.

Memilih untuk tidak marah terhadap cercaan, cemoohan dan gangguang orang lain merupakan satu pilihan yang berat.

Tetapi Allah dan rasul-Nya tetap memerintahkan umat Islam untuk memilih yang berat itu (dengan tidak marah) . Bahkan Allah memerintahkan kita untuk santun (lemah lembut) bersegera dalam memaafkan, bahkan sampai pada tahap memohonkan ampunan, serta mengajak orang yang sering memancing emosi kita untuk bermusyawarah.

Sebab marah sama sekali tidak akan menghasilkan apapun. Lihatlah Rasulullah saw tatkala memulai dakwah di Makkah. Setiap hendak menuju masjid, beliau selalu diludahi oleh seorang kafir Quraisy. Rasulullah pun berlalu tanpa terganggu emosinya. Akhirnya setiap menuju ke masjid, beliau harus selalu diludahi, dan beliau tetap tidak marah.

Suatu hari rasulullah hendak ke masjid, dan ketika sampai dimana beliau harus diludahi, saat itu tak ada ludah yang menimpanya. Apa sikap nabi kita yang mulia itu?

Beliau mencari tau, dimana gerangan orang yang selama ini selalu meludahinya, kok hari ini tidak meludah lagi kepadanya? Subahanallah.

Sesaat setelah mengetahui bahwa sang peludah itu dalam keadaan sakit, beliau pun segera menjenguknya. Melihat kedatangan rasulullah, spontan sang peludah terharu, menyesal dan sangat terkesima dengan sikap rasulullah saw. Peludah itu pun bersyahadat.
Bayangkan jika Rasulullah saw, membalas sikap tidak manusiawi sang peludah itu, tentulah sang peludah itu tidak akan pernah mengerti kemuliaan ajaran Islam dan keagungan akhlak rasulullah saw, sehingga dia tetap dalam kesesatan.

Pada masa-masa awal dakwah Islam, sejarah membuktikan bahwa akhlak yang mulia, atau kesantunan, menduduki peringkat tertinggi yang menjadi faktor penting, seseorang menyatakan diri masuk Islam. Ketika itu orang belum mampu berpikir layaknya manusia modern saat ini. Tetapi jangan salah, di zaman modern pun akhlak yang mulia atau kesantunan juga merupakan senjata yang efektif untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan.

Tetapi,kini itu semua tak lagi mendapat perhatian apalagi diutamakan. Lihat saja negeri kita hari ini. Mengapa seolah-olah bangsa ini tak akan bisa keluar dari masalah? Sebab semua bicara, semua merasa dirinya layak didengar, dan sedikit yang mengalah, apalagi bekerja benar-benar karena Allah dan rasul-Nya.

Akhlak tak lagi mendapat perhatian, kesantunan tak lagi dianggap sebagai keistimewaan. Dalam situasi demikian, tentu rahmat Allah jauh dari kehidupan kita.

Perselisihan terus terjadi bahkan pertengkaran dan tawuran justru menjadi hiasan kehidupan manusia yang tidak lagi berakhlak dan tidak mengenal kesantunan. Akhirnya, kritik, saran, pernyataan, banyak yang tidak berbobot, apalagi solutif. Yang ada selalu memicu perdebatan, perselisihan, dan seterusnya.

Menarik apa yang Allah perintahkan kepada kita semua, bahwa jangankan kepada saudara seiman, kepada raja kafir pun kita diperintahkan untuk berbicara lemah lembut penuh kesantunan. Lihatlah bagaimana Allah berpesan kepada Musa dan Harun ketika keduanya harus memberi peringatan kepada Fir’aun, seorang raja yang sangat kejam dan dholim.


فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS: 20: 44).

Maka tidaklah mengherankan mengapa Nabi Muhammad lebih memilih bersikap santun, lemah lembut dalam menjalani kehidupannya. Sebab pada sifat lemah lembut, kesantunan, bahkan akhlak mulia terdapat sebuah kekuatan besar, yaitu adanya peluang kembalinya kesadaran seseorang untuk bisa mengetahui kebenaran dan kebatilan lalu mengikuti kebenaran dan meninggalkan kebatilan.

Hampir bisa dipastikan, di zaman nabi hampir tidak ada orang masuk Islam karena perdebatan. Tetapi masuk Islam karena kesantunan dan sifat lemah lembut rasulullah saw. Hal ini lebih banyak buktinya. Jadi marilah kita berusaha menjadi pribadi yang santun, lemah lembut dan berakhlak mulia.

Sebab Allah telah menegaskan secara gamblang bahwa kesuksesan Nabi Muhammad dalam dakwah adalah karena rahmat-Nya berupa kesantunan. Dan, siapa pun kita jika ingin sukses, mendapat rahmat Allah maka harus memilih kesantunan sebagai perangai diri. Bukan kebencian, kedengkian, dan permusuhan.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِي

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. 3: 159).

Apabila kita telah berusaha menjadi pribadi santun dan ternyata belum ada perubahan pada apa yang kita harapkan berubah. Serahkanlah semua kepada Allah, sebab kita hanya berkewajiban untuk menjadi pribadi yang santun. Kita sama sekali tidak punya kekuatan untuk merubah kondisi hati orang lain. Dan,
Allah pasti punya maksud yang lebih baik, lebih indah, bahkan lebih canggih dari setiap situasi dan kondisi yang kita hadapi.

Wallahu a’lam.
*Ainun Jariyah*.(cpt).

*Mengendalikan Marah*.



Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Berilah saya nasihat.” Rasulullah bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (Riwayat Bukhari).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan Hadits di atas, “Bukanlah maksud beliau adalah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabiat manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah, Anda bisa melihat kalau orang sedang marah, maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang….”

Berikut adalah adab-adab yang harus diperhatikan seorang Muslim berkaitan dengan marah yang disusun oleh Syaikh Sayyid Nada dalam kitab Mausuu’atul Aadaab al Islamiyah.

Pertama, jangan marah, kecuali karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Marah karena Allah merupakan sesuatu yang disukai dan mendapatkan amal. Misalnya, marah ketika menyaksikan perbuatan haram merajalela.

Kedua, berlemah lembut dan tak marah karena urusan dunia. Sesungguhnya semua kemarahan itu buruk, kecuali karena Allah. Ia mengingatkan, kemarahan kerap berujung dengan pertikaian dan perselisihan yang berujung pada dosa besar dan memutuskan silaturahim.

Ketiga, ketika marah, ingat keagungan dan kekuasaan Allah. Ketika mengingat kebesaran Allah, maka kemarahan akan bisa diredam.

Keempat, menahan dan meredam amarah jika telah muncul. Allah menyukai seseorang yang dapat menahan dan meredam amarahnya yang telah muncul. Allah berfirman, ” … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Ali Imran {3}:134).

Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bahri, ketika kemarahan tengah memuncak, hendaknya segera menahan dan meredamnya. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (Riwayat Ahmad).

Kelima, berlindung kepada Allah ketika marah. Rasulullah bersabda, “Jika seseorang yang marah mengucapkan; ‘A’uudzu billah (aku berlindung kepada Allah, niscaya akan reda kemarahannya.” (Riwayat Ibu ‘Adi dalam al-Kaamil.)

Keenam, diam. Rasulullah bersabda, “Ajarilah, permudahlah, dan jangan menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (Riwayat Ahmad).

Ketujuh, mengubah posisi ketika marah. Beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (Riwayat Ahmad).

Kedelapan, berwudhu atau mandi. Marah adalah api setan yang dapat mengakibatkan mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf. “Maka dari itu, wudhu, mandi atau semisalnya, apalagi mengunakan air dingin dapat menghilangkan amarah serta gejolak darah,” tuturnya,

Kesembilan, memberi maaf dan bersabar. Orang yang marah sudah selayaknya memberikan ampunan kepada orang yang membuatnya marah. Allah memuji para hamba-Nya “… dan jika mereka marah mereka memberi maaf.” (Asy-Syuura {42}:37).

Sesungguhnya Rasulullah adalah orang yang paling lembut, santun, dan pemaaf kepada orang yang bersalah.*

*Ainun Jariyah*.(cpt).

* Untungnya Melahirkan Itu Sakit *.



“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
( Ali Imran {3}: 190-191)

Bukan kebetulan kalau melahirkan itu sakit. Andaikata Allah Subhanahu wata’ala menghendaki, tak ada yang sulit untuk menghapus rasa sakit itu. Mudah pula bagi Allah Ta’ala untuk mencabut susah payah yang dirasakan oleh ibu-ibu hamil sejak awal mengandung hingga siap melahirkan. Cukuplah bagi Allah Ta’ala bertitah “Kun!” maka jadilah apa yang Ia kehendaki.

Ingatlah ketika Allah Ta’ala berfirman, “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia.” (Al-Baqarah, {2}: 117).

Kalau kemudian harus ada rasa sakit, bahkan kesakitan yang luar biasa, pasti ada manfaat besar dibaliknya. Ada hikmah dibalik rasa sakit saat melahirkan baik bagi ibu maupun bayi yang dilahirkan. Tentu saja seorang ibu harus merawat kehamilannya dengan baik, menjaga kesehatannya dan melakukan hal-hal yang memang semestinya dilakukan untuk menjaga bayi yang ada dalam kandungan. Ini bukan untuk menghilangkan rasa sakit saat melahirkan, tetapi sebagai penghormatan terhadap amanah Allah Ta’ala berupa kehamilan.

Andaikata rasa sakit saat melahirkan membawa keburukan besar bagi bayi yang dilahirkan beserta ibunya, tentu Allah Ta’ala mencabut rasa sakit itu. Andaikata rasa sakit saat bersalin membawa keburukan besar yang membahayakan ibu dan anak, secara fisik maupun mental, niscaya kita sudah nyaris punah. Tak ada lagi yang mau melahirkan disebabkan besarnya rasa sakit. Tak ada lagi yang bisa melahirkan secara normal disebabkan trauma persalinan yang tak berkesudahan. Sedangkan anak-anak yang dilahirkan sudah mengalami banyak masalah.

Tetapi tidak…!
Berjuta-juta ibu tetap tersenyum bahagia justru beberapa detik setelah melewati rasa sakit itu. Begitu bayi lahir dengan selamat, segala rasa sakit itu seakan telah terbayar lunas. Wajah mereka berseri-seri, bahkan di saat yang menunggui persalinan masih merasa penat. Justru besarnya rasa sakit itulah yang membuat persalinan lebih bermakna. Ada perjuangan, ada pengorbanan. Salah satu hikmahnya, ikatan emosi antara ibu dan anak terbentuk lebih kuat sejak hari pertama, bahkan semenjak bayi belum lahir karena kepayahan yang bertambah-tambah saat mengandung.

Jika kita menyimak sejarah, orang-orang besar dalam dien ini bahkan dilahirkan bukan saja dengan rasa sakit yang amat sangat, lebih dari itu ada penderitaan yang nyaris tak tertanggungkan kecuali bagi orang-orang yang memiliki keimanan sangat kuat. Bukankah Bunda Nabiyullah Ismail adalah perempuan salehah istri seorang nabi? Bukankah doa seorang nabi sangat mustajabah? Tetapi kenapa masih harus ada rasa sakit dan kesengsaraan yang mengiringi kelahiran Isma’il ‘alaihissalam?

Ada pelajaran di sini. Ada yang patut kita renungkan; apa yang harus kita perbuat dengan ongkos yang telah dikeluarkan oleh para ibu berupa rasa sakit dan kepayahan yang bertambah-tambah saat mengandung hingga melahirkan.

Mari kita ingat sejenak firman Allah ‘Azza wa Jalla:
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.” (Al-Ahqaaf, {46}: 15).

Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Setiap ketetapan Allah Ta’ala pasti terkandung kebaikan besar di dalamnya. Sebagaimana pada setiap perintah Allah Ta’ala dan sunnah rasul-Nya pasti ada kemuliaan. Bukan daging kambing yang menyebabkan darah tinggi sehingga banyak kaum muslimin yang menghindari sunnah nabi. Tetapi gaya hidup kitalah yang menyebabkan kita mudah penyakitan.

Tetapi, haruskah para perempuan tetap melahirkan dengan rasa sakit? Bukankah semakin banyak berkembang teknologi maupun metode-metode yang diklaim dapat membebaskan para perempuan dari rasa sakit saat melahirkan?

Catatan Dr. Denis Walsh menarik untuk kita perhatikan. Associate Professor kebidanan di Nottingham University ini menunjukkan dalam tulisannya yang dimuat di jurnal Evidence Based Midwivery (Kebidanan Berbasis Bukti) terbitan Royal College of Midwives (RCM) bahwa rasa sakit saat melahirkan sangat bermanfaat bagi ibu maupun bayi yang dilahirkan.

Walsh menulis, “Rasa sakit dalam persalinan merupakan sesuatu yang bertujuan, penuh manfaat, memiliki sangat banyak keuntungan, seperti misalnya mempersiapkan ibu untuk mengemban tanggung-jawab mengasuh bayi yang baru lahir.”

Lebih lanjut Walsh menunjukkan bahwa rasa sakit saat melahirkan bersifat sesaat, sangat menyehatkan dan mempercepat terbentuknya ikatan emosi yang baik antara ibu dan anak. Walsh menekankan bahwa melahirkan secara alamiah merupakan pilihan terbaik. Usahakan dengan sungguh-sungguh agar setiap persalinan berlangsung alamiah.

Dari catatan Walsh kita juga bisa memetik satu pelajaran penting. Jangan memilih operasi caesar untuk persalinan Anda kecuali sangat terpaksa, yakni ketika tidak ada pilihan lain dan secara medis memang diharuskan untuk bersalin melalui operasi. Karenanya, pastikan Anda memilih dokter yang memiliki integritas pribadi sangat kuat; dokter yang tidak mudah menganjurkan operasi hanya karena uang. Ini penting untuk kita perhatikan karena uang itu “hijau” meskipun warnyanya pink.

Bagaimana dengan hypnobirthing? Selain tidak didukung bukti-bukti yang kuat, Walsh juga menganjurkan agar ibu hamil tidak mengikuti program semacam ini. Sadar atau tidak, pilihan mengikuti program hypnobirthing telah melemahkan mental untuk siap berjuang dan berpayah-payah dalam mendidik anak. Berhasil atau gagal, dua-duanya tidak baik untuk Anda. Salah satu yang mengkhawatirkan jika Anda gagal menghilangkan rasa sakit saat bersalin, rentan memunculkan kekecewaan dan penolakan terhadap anak.
Dalam hal ini, sikap mental sebelum melahirkan sangat berpengaruh terhadap bagaimana seorang ibu menjalani persalinan dan mengasuh anak di masa-masa berikutnya. Jika Anda terpaksa bersalin melalui prosedur operasi caesar, sementara Anda sangat berkeinginan untuk melahirkan secara normal dan pada saat yang sama tidak ada niatan untuk menghindari rasa sakit, maka Anda akan lebih siap mengasuh, merawat dan mendidik anak Anda.


Wallahu a’lam bishawab.
*Ainun Jariyah*.

*Permasalahan: Menghadap Kiblat dan Berpaling Sedikit Dari Kiblat*.



Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, apabila berdiri untuk mengerjakan shalat fardhu ataupun shalat sunnah, beliau menghadap kearah ka’bah.[1] Rasulullah telah memerintahkan hal tersebut kepada orang yang shalatnya jelek, beliau bersabda :

“Apabila kamu berdiri untuk mengerjakan shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah kearah kiblat, lalu bertakbirlah (takbiratul ihram).” [2] (HR Bukhari – Muslim)

“Dalam suatu perjalanan, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat sunnah, dan shalat witir diatas kendaraannya dengan menghadap kearah manapun sesuai dengan arah yang dituju oleh kendaraannya.” [kearah timur dan barat].” [3]

Dalam perkara ini turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang berbunyi :


“maka kemanapun kamu menghadap disanalah wajah Allah.” (al Baqarah : 115)

Apabila hendak mengerjakan shalat sunnah diatas untanya, terkadang beliau mengarahkan untanya kearah kiblat, lalu beliau bertakbir, setelah itu beliau shalat kearah manapun sesuai dengan arah yang dituju oleh kendaraannya.[4] Beliaupun pernah rukuk dan sujud diatas kendaraannya dengan cara mengangguk-anggukkan kepalanya. Beliau menjadikan sujudnya lebih rendah dari pada rukuknya.[5] Apabila beliau hendak mengerjakan shalat fardhu, beliau turun (dari kendaraannya), kemudian beliau shalat dengan menghadap kearah kiblat.[6] Adapun dalam kondisi perang yang sedang berkecamuk, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah membimbing ummatnya agar mereka mengerjakan shalat sambil berjalan kaki atau sambil menaiki kendaraan, dengan menghadap kearah kiblat ataupun tidak.[7] Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“Apabila mereka sedang bertempur, maka sesungguhnya (shalat itu) hanyalah berupa takbir dan anggukan kepala.” [8]

Dan beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“Antara arah timur dan Barat adalah kiblat.”[9] (HR Tirmidzi dan Hakim)

Jabir radhiyallallahu’anhu berkata :
“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan atau dalam suatu penyerbuan, lalu kami diselimuti kabut. Maka kami berusaha untuk mendapatkan arah kiblat. Setiap orang dari kami berselisih. Setiap orang dari kami mengerjakan shalat dengan membuat pembatas. Diantara kami ada yang membuat garis didepannya, agar bisa mengetahui posisi atau tempat kami masing-masing. Pada keesokan harinya kami melihat apa yang kami lakukan semalam, ternyata kami mengerjakan shalat tidak menghadap kearah kiblat. Lalu kami ceritakan kejadian itu kepada Nabi (maka beliau tidak memerintahkan kami untuk mengulangi shalat kami). Beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Shalat kalian sah.”[10] Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengerjakan shalat menghadap baitul maqdis [sementara kakbah berada dihadapan beliau]. Hal itu terjadi sebelum turunnya ayat ini :

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah kelangit, maka sungguh Kami akan memelingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram…”(Al Baqarah : 144)

Setelah ayat ini turun, beliau shalat menghadap kearah kakbah. Ketika orang-orang tengah menunaikan shalat subuh di masjid quba, tiba-tiba ada seseorang yang mendatangi mereka, lalu dia berkata : “Sesungguhnya malam ini telah diturunkan al Qur’an kepada Rasulullah. Beliau telah diperintah untuk menghadap kearah ka’bah, maka menghadaplah –kalian semua- ke arah ka’bah.” Ketika itu wajah-wajah mereka tengah menghadap kearah negeri syam (Baitul Maqdis), lalu mereka berputar. [Imam shalat mereka berputar, sampai akhirnya mereka semua dapat menghadap kearah ka’bah]. [11]


*Ainun Jariyah*.
Foot Note

[1]. Ini merupakan sesuatu yang qath’i karena riwayatnya mutawatir, sehingga tidak perlu lagi untuk ditakhrij. Dalil-dalil tentang hal ini akan disebutkan nanti.
[2]. Bukhari, Muslim dan Sirraj. Hadits yang pertama telah ditakhrij dalam Al-Irwa’ (298).
[3]. Idem.
[4]. Abu Dawud dan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat (1/21) dan Adh Dhiya dalam Al-Mukhtarah dengan sanad hasan. Dan dishahihkan oleh Ibnu Sakan dan Ibnu Mulaqqin dalam Khalashatul badril Munir (22/1). Sebelum mereka, hadits inipun telah dishahihkan oleh Abdul haq Al-Isybili dalam Ahkam beliau (no. 1394 dengan tahqiq yang saya berikan). Pendapat ini telah dipilih oleh Imam Ahmad, sebagaimana riwayat yang dinukil oleh Ibnul Hani dalam Masail-nya (1/67) dari beliau.
[5]. Ahmad dan Tirmidzi dan Dishahihkan olehnya.
[6]. Bukhari dan Ahmad.
[7]. Bukhari dan Muslim. Hadits telah ditakhrij dalam kitab irwaul Ghalil hadits no. 588.
[8]. Baihaqi dengan sanad Shahihain.
[9]. Tirmidzi dan Hakim dan telah dishahihkan oleh keduanya. Saya telah mentakhrij hadits ini dalam kitab Irwaul Ghalil Fii Tkhrij Ahadits Manaris Sabil. Hadits no. 292. allah telah melancarkan proses pencetakan kitab ini.
[10]. Daruquthni, Hakim dan Baihaqi. Hadits ini memiliki syahid (hadits pendukung) dalam riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits pendukung lainnya diriwayatkan Thabrani. Hadits ini telah ditakhrij dalam kitab Irwaul Ghalil no. Hadits 296.
[11]. Bukhari, Muslim, Ahmad, Sirraj, Thabrani (3/108/2) dan Ibnu Sa’ad (1/243). Hadits ini tercantum dalam kitab Al Irwa’ no. Hadits 290.

——————————————————————————
——————————————————————–

TANYA- JAWAB

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apabila orang yang shalat telah mengetahui ia berpaling sedikit dari qiblat, apakah dia mengulangi shalatnya.?

Jawab
Berpaling sedikit dari qiblat tidaklah membahayakan ini berlaku bagi orang yang jauh dari Masjidil Haram. Karena Masjidil Haram merupakan qiblat bagi orang yang shalat karena didalamnya ada Ka’bah. Oleh karena itu para ulama berpendapat : Barangsiapa yang dapat menyaksikan Ka’bah maka wajib baginya untuk menghadap langsung ke Ka’bah, maka orang yang shalat di Masjidil Haram menghadap kearah Ka’bah, kemudian tidak menghadap langsung ke Ka’bah, dia harus mengulangi shalatnya karena shalatnya tidak sah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Palingkan mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” [Al-Baqarah : 144]

Kalau orang tersebut jauh dari Ka’bah tidak bisa menyaksikannya walaupun masih berada di wilayah Makkah wajib baginya untuk menghadap ke arah qiblat, tidak mengapa berpaling sedikit, oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada penduduk Madinah.

“Apa yang diantara Timur dan Barat adalah Qiblat” [1]

Karena penduduk Madinah menghadap ke Selatan maka setiap apa yang diantara Timur dan Barat menjadi Qiblat bagi mereka. Demikian pula misalnya kita katakan kepada orang yang shalat menghadap ke Barat bahwa diantara Selatan dan Utara adalah Qiblat.

HUKUM SHALAT BERJAMA’AH TIDAK MENGHADAP KIBLAT

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana hukumnya shalat berjama’ah menghadap selain Qiblat/tidak menghadap Qiblat?

Jawaban
Masalah ini tidak lepas dari dua hal.
[1]. Mereka berada di suatu tempat yang tidak memungkinkan untuk mengetahui arah qiblat, seperti dalam safar, langit mendung sehingga tidak ada petunjuk ke arah qiblat, apabila mereka shalat menghadap kearah mana saja kemudian apabila mereka mengetahui bahwa mereka shalat tidak menghadap qiblat tidak apa-apa bagi mereka (shalatnya syah), karena mereka sudah bertakwa kepada Allah menurut kemampuan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Bertakwalah kepada Allah semampu kamu” [Ath-Thaghabun : 16]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Apabila aku perintahkan kalian dengan suatu perintah maka kerjakanlah semampu kalian” [2]

[2]. Mereka berada pada suatu tempat yang memungkinkan bagi mereka untuk bertanya tentang qiblat, tetapi mereka lalai dan tidak mau bertanya, dalam hal ini mereka mengulangi (mengqadha) shalat yang mereka kerjakan dengan tidak menghadap qiblat. Sama saja apakah mereka mengetahui kesalahan mereka sebelum waktu shalat habis atau setelahnya, karena mereka dalam masalah ini bersalah dan disalahkan, disalahkan dalam msalah qiblat, karena mereka tidak sengaja berpaling dari qiblat tetapi mereka bersalah dalam kelalaian mereka untuk menanyakan tentang qiblat. Seyogyanya kita mengetahui bahwa berpaling sedikit dari arah qiblat tidaklah membahayakan. Seperti berpaling kekanan atau kekiri sedikit berdasarkan sabda Rasulullah kepada penduduk Madinah.

“Diantara Timur dan Barat adalah Qiblat”

Orang-orang yang berdomisili di sebelah utara dari Ka’bah kita katakan kepada mereka, di antara Utara dan Selatan adalah qiblat, berpaling sedikit dari qiblat tidak apa-apa

Dan di sini ada masalah yang ingin saya tekankan yaitu : Barangsiapa yang berada di Masjidil Haram melihat Ka’bah maka wajib baginya untuk menghadap langsung Ka’bah tidak menghadap ke arahnya, karena apabila berpaling dari Ka’bah maka ia belum menghadap qiblat. Saya melihat kebanyakan orang-orang di Masjidil Haram tidak menghadap langsung ke Ka’bah, mereka membuat shaf bundar memanjang, maka sesungguhnya kebanyakan dari mereka tidak menghadap langsung ke Ka’bah. Ini merupakan kesalahan besar, wajib bagi orang Islam memperhatikannya, karena kalau mereka shalat dalam keadaan yang demikian itu berarti mereka shalat tidak menghadap qiblat.

[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, Edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Bab Ibadah, Penerjemah Furqan Syuhada, Penerbit Pustaka Arafah]
__________
Foote Note

[1]. HR Tirmidzi, Kitabu Ash-Shalat, bab Ma’ Ja’a Anna Ma Baina Al-Masyriq wal Maghrib Qiblat, dan Ibnu Majah (1011) dan Hakim, dishahihkan dan disepakati oleh Azh-Zhahabi (Al-Mustadzrak 1/225]
[2]. HR Bukhari, Kitabu Al-Iqtisama bi Al-Kitabi wa As-Sunnati, bab Al-Iqtida’ Bi Sunnati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Muslim, Kitab Al-Haj, bab Fardhu al-Hajj.