Pages
▼
Sabtu, 21 Januari 2012
*Respon Demam Dalam Tubuh*.
مَثَلُ الْمُسْلِمِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَالْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اِشْتَكَى مِنْهُ عَضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَى
“Perumpamaan orang-orang muslim beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh; apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh meresponnya dengan merasa demam.” (HR Muslim)
Penelitian modern secara intensif dan berturut-turut mengungkapkan fakta-fakta luar biasa tentang interaksi antara organ-organ tubuh manusia ketika terancam dengan bahaya seperti cedera atau sakit. Para peneliti juga menemukan strategi dan fungsional tanggapan yang diambil oleh seluruh organ-organ tubuh setiap kali satu organ mengalami cedera atau sakit, dan tanggapan ini berbeda-beda menurut sifat cedera.
Segera setelah infeksi atau cedera terjadi, pusat sensoris mulai memanggil kontrol dan pusat-pusat peringatan di hipotalamus. Hal ini pada gilirannya akan menghasilkan panggilan terhadap kelenjar pituitari untuk mengeluarkan hormon yang memanggil seluruh kelenjar endokrin untuk mengeluarkan hormon mereka, yang mendesak semua organ tubuh untuk menyelamatkan organ yang terancam. Oleh karena itu, keluhan itu nyata, dan panggilan tersebut mengandung pengertian yang hakiki, bukan suatu metaforis. Panggilan, dalam hal ini, berarti bahwa setiap bagian tubuh memanfaatkan energi untuk menyelamatkan bagian yang terancam rusak. Jantung, misalnya, mulai berdetak lebih cepat untuk membantu sirkulasi darah dan mencapai organ yang terluka.
Pada saat yang sama, pembuluh darah di organ yang terluka menglaami kontraksi, sedangkan pembuluh lain di seluruh tubuh berkembang dalam rangka untuk mengirim jumlah energi, oksigen, antibodi, hormon, dan asam amino yang diperlukan ke bagian yang cedera untuk membantu melawan infeksi atau cedera dan untuk menyembuhkan dengan cepat.
Tubuh mulai collapse, yaitu dengan memecah-belah bagian dari lemak dan protein yang tersimpan, dalam rangka untuk memberikan bantuan bagi organ yang cedera. Ia terus mengalirkan, dan ‘pengorbanan’ berlanjut hingga proses penyelamatan mereda, ketika cedera atau penyakit terkendali, dan sel-sel jaringan yang terinfeksi disembuhkan.
Panggilan dari bagian yang terluka atau terinfeksi sama persis dengan panggilan bantuan yang nyata; tempat yang terinfeksi melepaskan pulsa ke saraf sensoris dan pusat-pusat peringatan otak. Selain itu, beberapa zat kimia diproduksi bersamaan dengan tetesan darah pertama atau ketika sebuah jaringan robek. Kemudian, semua organ tubuh merespon untuk memberikan bantuan bagi organ yang terinfeksi sesuai dengan sifat cedera atau penyakit.
Apa yang disebutkan dalam hadis itu benar-benar terjadi, karena semua organ tubuh saling memanggil untuk menyelamatkan organ yang terinfeksi, dan umat Islam harus seperti itu: Ketika suatu daerah mengalami agresi apapun, maka seluruh umat harus menghubungi satu sama lain untuk memberikan bantuannya.
Anda tidak menemukan kata yang lebih akurat daripada kata tada’a (saling memanggil) untuk menggambarkan satu organ tubuh sakit. Jadi di sini ada mujizat linguistik, retorika, dan ilmiah pada waktu yang sama. Nabi Saw. mengatakan kepada kita apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh manusia tanpa perlengkapan atau peralatan, dan beliau sangat tepat dalam menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat retoris.
Yang lebih menakjubkan adalah kenyataan bahwa nama yang digunakan dokter untuk menyebut sistem saraf yang berinteraksi ketika tubuh terinfeksi atau terluka adalah: the lover, kind, and merciful (sang kekasih, baik hati, dan penuh belas kasihan), sama seperti kata-kata Nabi Saw. dalam hadis.
*Ainun Jariyah*
*Misteri Marah: Antara Sains dan Quran*.
Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad Saw. meminta nasihat dan Nabi berpaling kepadanya, lalu beliau bersabda dengan berulang-ulang: "Jangan pernah marah!" (HR Bukhari)
Hal ini kemudian diperjelas oleh penelitian ilmiah yang menekankan bahwa kemarahan, secara psikologis dan rangsangan neorotik, tidak memiliki pengaruh yang lebih besar daripada berlari dalam hal meningkatkan denyut jantung dan memompa lebih banyak darah dan lebih cepat. Namun, marah tidak seperti berlari, pelari bisa berhenti jika dia mau, sedangkan marah tidak dapat dikuasai dengan mudah, terutama jika orang tersebut tidak terbiasa. Kemudian apa yang bisa terjadi?
Secara klinis terbukti bahwa orang-orang yang melampiaskan kemarahan dapat dengan mudah menderita hipertensi dan arteriosklerosis karena tekanan darah menjadi terlalu tinggi, sedangkan pembuluh darah kehilangan kemampuan untuk memperluas diri untuk menampung tambahan darah yang terpompa. Selain itu ada juga dampak psikologis dan sosial yang dapat merusak hubungan manusia.
Namun, layak diperhatikan bahwa yang menjadi pemikiran utama sejak lama adalah bahwa menahan marah juga menjadi pemicu banyak penyakit. Sebuah studi di Amerika menjelaskan bahwa marah dan menahwan marah memiliki bahaya kesehatan yang sama, meskipun berbeda tingkat keparahannya.
Jika kita menahan amarah, tidak akan ragu untuk menderita hipertensi dan kadang-kadang kanker. Dan dalam kasus lain, ini dapat menyebabkan serangan jantung mematikan, karena ledakan kemarahan akan terjadi, dan itu lebih sulit untuk dikontrol. Dan karena kondisi fisik begitu banyak terkait dengan psikologis, ini dapat menyebabkan organ-organ vital lainnya dan kelenjar untuk mengeluarkan hormon sampai-sampai mengganggu, dan akibatnya melemahkan sistem kekebalan, atau menghilangkannya sama sekali setelah terjadi keadaan kritis pada tubuh.
Jadi, ini menjelaskan mengapa sel-sel tubuh yang sehat dapat berubah menjadi kanker karena tidak adanya sistem kekebalan yang normal. Hal ini menunjukkan aspek ilmiah dan filsafat praktis di belakang pengulangan nasihat Nabi Saw. untuk menjaga ketenangan.
Di sisi lain, Dr.Ahmed Shawki Ibrahim, anggota dari Royal Society of Medicine di London dan konsultan kardiologi internal medicine, mengatakan bahwa kodrat manusia ditandai oleh kecenderungan dan perilaku yang berbeda. Sebagai contoh, keinginan jasmani mengarah kepada kemarahan, sifat dominan dilambangkan oleh kecenderungan terhadap kesombongan dan keangkuhan sementara mengikuti hawa nafsu seseorang menghasilkan kebencian dan keengganan untuk orang lain.
Secara umum, di samping penyakit-penyakit psikologis dan fisik lain seperti diabetes dan angina, menurut penelitian ilmiah dan menurut Dr Shawki, mengafirmasi kenyataan bahwa kemarahan yang terus-menerus dapat mempercepat kematian manusia.
Nabi Muhammad Saw. memerintahkan kita untuk menahan diri jika marah karena setiap tindakan di waktu marah itu dapat membawa penyesalan ketika tenang.
Alquran menggambarkan amarah sebagai kekuatan jahat yang memaksa orang untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Ketika Nabi Musa Saw. kepada kaumnya, maka ia marah, lalu dilemparnya lembaran-lembaran kitab suci, lalu ia menarik kepala saudaranya. Kemudian ketika amarah Musa mereda, maka beliau mengambil lembaran-lembaran kitab suci tersebut. Tampak jelas perbandingan antara kedua kondisi tersebut.
Jadi, apa yang kita butuhkan adalah kontrol diri setelah iman yang kuat dan kepercayaan kepada Allah, Pencipta kita. Petunjuk Nabi Saw. mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan itu identik dengan ketenangan, bukan kemarahan yang tak terkontrol.
Obat penenang juga tidak dapat menjadi solusi, karena efeknya justeru negatif.
Penggunaan obat penenang sering mereka dapat menjadikan kecanduan sehingga tidak dapat dihentikan. Cara mengatasinya adalah dengan mengubah perilaku manusia itu sendiri dalam menghadapi masalah sehari-hari, yaitu dengan ketenangan dan kehalusan, bukan dengan marah. Dr. Shawki menambahkan bahwa ada dua terapi psikologis untuk meredakan kemarahan:
Pertama: mengurangi kepekaan emosional dengan melatih pasien, di bawah pengawasan medis, untuk bersantai jika bertemu dengan situasi sulit sedangkan ia tidak merasakan kegembiraan.
Kedua: melalui relaksasi psikologis dan fisik, sembari mengingat pengalaman yang paling sulit dan mengubah posisi fisik, yaitu berdiri, duduk atau berbaring.
Walaupun ini adalah yang direkomendasikan oleh obat ini sangat beberapa tahun terakhir, Nabi-saw-mengajarkannya kepada para sahabatnya dalam hadis yang mengatakan bahwa bila seseorang merasa marah sambil berdiri
(misalnya) mereka dapat duduk atau berbaring untuk mengusir kemarahan pergi.
*Ainun Jariyah*
*Tunduk Kepada Syariat Allah Sikap Seorang Mukmin*.
Diwajibkan bagi seorang Mukmin untuk menerima semua hukum Allah swt serta tunduk kepadanya baik dalam perkara-perkara yang bisa dicerna oleh akalnya maupun tidak. Seorang mukmin haruslah meyakini bahwa tidaklah Allah menentukan halal atau haram pada sesuatu kecuali didalamnya terdapat kebaikan dan kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya. Firman Allah swt:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)
Artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab [33] : 36)
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (51)
Artinya: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan Kami taat". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur [24] : 51)
Dalil-Dalil Diharamkannya Khamr, Judi dan Zina
Sebagaimana telah diketahui oleh kaum muslimin bahwa khamr (minuman keras), perjudian dan perzinahan adalah perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah swt berdasarkan kitab, sunnah dan ijma ahli ilmu.
Beberapa dalil tentang pengharaman khamr dan perjudian, diantaranya:
Firman Allah swt:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90) إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (91)
Artiny : “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah [5] : 90-91)
Abu Daud dan Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Semoga Allah melaknat khamr, peminumnya, yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, pemerasnya, orang yang diperaskannya, orang yang membawanya dan orang yang dibawakan kepadanya'."
Kata-kata laknat didalam hadits tersebut menunjukkan perbuatan itu tergolong dosa besar di sisi Allah swt.
Adapun dalil tentang diharamkan perzinahan dan termasuk dosa besar, diantaranya firman Allah swt:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا (32)
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra [17] : 32)
Sedangkan diantara dalil hadits adalah apa yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim; Dari 'Abdullah dia berkata, "Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; 'Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?' Beliau menjawab, 'Bila kamu menyekutukan Allah, padahal dialah yang menciptakanmu'. Aku berkata, 'tentu itu sungguh besar'. Aku bertanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Apabila kami membunuh anakmu karena takut membuat kelaparan'. Aku bertanya lagi, 'kemudian apa?' beliau menjawab, 'Berzina dengan istri tetanggamu'."
Kesempurnaan iman seorang Muslim juga ditentukan dengan penerimaan dan ketundukannya kepada syariat Allah swt. Keraguan sedikit saja terhadapnya maka ia telah merusak keimanannya. al Lajnah ad Daimah didalam fatwanya No. 19446 menyebutkan bahwa barangsiapa yang berkeyakinan selain itu—diharamkannya khamr—sementara dia mengetahui keharamannya—maka ia murtad karena mengingkari apa yang telah diketahui keharamannya secara umum dalam agama islam berdasarkan dalil-dalil syar’i dan ijma ahli ilmu.
Hukum Pengambilan Pajak dari Barang-barang atau Perbuatan Haram
Sudah menjadi rahasia umum serta didukung dengan dalil-dalil qath’i bahwa khamr, perjudian dan perzinahan adalah perbuatan yang diharamkan Allah swt. Oleh karena itu tidak diperbolehkan bagi negara mengambil pajak dari perdagangan khamr, judi atau tempat-tempat perzinahan berapa pun besar prosentasenya dan apa pun alasannya. Mengambil pajak darinya bisa berarti ridho dengan kemunkaran tersebut dan termasuk bekerjasama dalam perbuatan dosa dan maksiat yang dilarang Allah swt:
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya: “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah [5] : 2)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (QS. An-Nisaa [4] : 29)
Pajak hanya bisa diambil dari barang-barang yang dihalalkan Allah yang disertai persyaratan tidak cukupnya keuangan baitul mal dan diharuskan pengembalian manfaat dari pajak seluruhnya kepada rakyat.
Abu Daud meriwayatkan dari 'Uqbah bin 'Amir, ia berkata; "Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Tidak akan masuk surga orang yang mengambil pajak secara zhalim'."
Berbagai Alasan yang Tertolak
Begitu pula alasan pembatasan jual beli khamr, tempat-tempat perjudian atau perzinahan atau membatasi para pengunjung dan penggunanya hanya pada orang-orang non muslim atau orang-orang tertentu saja maka sungguh alasan yang tidak bisa diterima agama karena termasuk bentuk taawun (bekerja sama dalam kemaksiatan).
Jumhur ulama berpendapat bahwa haram hukumnya jual beli khamr kepada orang-orang non Muslim karena bermuamalah dengan orang-orang kafir dalam perkara yang diharamkan Allah swt adalah haram baik hal itu dilakukan di negeri-negeri Islam maupun negeri-negeri kafir. Dan pada dasarnya khamr juga diharamkan didalam agama Nasrani, sebagaimana pendapat ahli ilmu. Dari pendapat jumhur tersebut bisa disimpulkan bahwa diharamkan pula melegalkan perjudian atau perzinahan meski hanya untuk orang-orang tertentu terlebih lagi di negeri yang mayoritas Muslim.
Seorang yang beriman akan mendahulukan iman didalam hatinya daripada akal fikirannya ketika dihadapkan oleh hukum dan syariat Allah swt. Ia akan mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan menghalalkan apa-apa yang dihalalkan-Nya meskipun akal fikirannya bertentangan dengannya atau belum bisa mencernanya.
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65)
Artinya: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa [4] : 65)
Setelah itu dia bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt. Karena dengan keimanan yang penuh kepada Allah swt disertai ketawakalan kepada-Nya maka berbagai problema atau permasalahan yang muncul setelah itu pasti akan mendapatkan jalan keluar dari Allah swt.
Termasuk dalam hal ini adalah kekhawatiran bahwa psk akan berkeliaran jika tidak dilokalisasi, tempat-tempat perjudian akan merebak dimana-mana jika tidak dilokalisir. Sesungguhnya itu semua adalah kekhawatiran-kekhawatiran yang belum tentu terjadi jika penutupan secara mutlak dilakukan sementara kerusakan dari perbuatan maksiat tersebut selama ini telah nyata didepan mata. Tentunya berpegang dengan sesuatu yang sudah pasti terjadi di depan mata lebih diutamakan daripada berpegang dengan sesuatu yang masih diragukan kejadiannya.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ
Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya.” (QS. Ath-Thalaq [65] : 2-3)
Bertahap dalam Penerapan bukan Bertahap dalam Hukum Syariat
Adapun alasan perlunya bertahap dalam menghilangkan khamr, perjudian atau perzinahan dengan cara-cara menaikan pajak, melokalisir, atau membatasi pengunjungnya dengan berdalil pada tahapan pengharaman khamr pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak benar dan menggunakan dalil yang benar untuk tujuan yang salah.
Betul bahwa syariat islam diturunkan tidak sekaligus akan tetapi dengan cara bertahap, sedikit demi sedikit sehingga menjadi sempurna. Hal ini bisa kita lihat pada diturunkannya al Qur’an sebagaimana firman Allah swt :
وَقُرْآَنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا (106)
Artinya: “Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Israa [17] : 106)
Begitu juga dengan pengharaman khamr dan riba dengan cara bertahap kepada generasi pertama umat ini di masa-masa awal islam. Akan tetapi tahapan-tahapan yang disebutkan pada dalil-dalil diatas bukan menjadi alasan pada hari ini untuk bertahap pula dalam pengharaman khamr, judi dan zina secara mutlak. Karena tahapan-tahapan tersebut terjadi pada masa-masa awal islam sementara pada hari ini agama islam telah sempurna dan syariat Allah telah diteguhkan, sebagaimana firman-Nya:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah [5] : 2-3)
Jadi bertahap yang dimaksudkan di sini adalah bertahap dalam penerapan undang-undang syariat bukan bertahap dalam hukum syariat karena hukum terhadap khamr, judi atau zina telah final yaitu haram. Hal ini mengandung pengertian bahwa segala sesuatu yang mengarahkan atau mendekatkannya kepada perbuatan haram tersebut adalah haram.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا (32)
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra [17] : 32)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah [5] : 90) ... kata yang digunakan pada kedua ayat tersebut adalah “janganlah kamu mendekati” dan “jauhilah” hal ini mengandung pengertian bahwa segala sesuatu yang bisa mendekatkan kepada perbuatan haram tersebut adalah haram.
Kalaulah dibolehkan seseorang berpendapat hari ini bahwa untuk menghilangkan khamr, judi atau zina dengan cara menaikkan pajaknya hingga puluhan persen, atau hanya diberlakukan di tempat-tempat khusus, atau untuk orang-orang tertentu saja maka bisa pula kemudian dikatakan pada saat sekarang ini riba dibolehkan jika sedikit, atau dibolehkan untuk orang-orang tertentu, atau boleh jika di tempatkan pada lokasi-lokasi tertentu?! Jika demikian sama saja artinya mengharamkan khamr atau riba pada keadaan tertentu dan menghalalkannya pada keadaan yang lain, mengharamkannya terhadap orang-orang tertentu dan menghalalkannya terhadap yang lainnya padahal syariat Allah swt terhadap pengharamannya telah sempurna.
Inilah yang dimaksud dengan tidak tadarruj (bertahap) dalam hukum syariat yang telah ditetapkan Allah swt.
Adapun bertahap dalam penerapan hukum-hukum syariat adalah menerapkan perundang-undangan yang berdasarkan syariat Allah itu disesuaikan dengan kesiapan negeri tersebut. Jika suatu negeri baru memiliki kesiapan untuk menerapkan hukum pengharaman riba didalam setiap pratek-pratek muamalah maka hukum pengharaman riba ini harus diterapkan. Kemudian apabila negeri ini telah memiliki kesiapan untuk penerapan had (hukum Islam) terhadap para pencuri maka penerapan hukum islam terhadap pencuri ini pun harus segera diterapkan. Dengan terus berusaha dan memiliki kemauan kuat untuk merubah hukum buatan manusia dengan hukum Allah swt secara bertahap, sedikit demi sedikit maka hukum Allah seluruhnya bisa diterapkan di negeri tersebut.
Firman Allah swt :
Artinya : "Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu." (QS. at Taghabun : 16)
Wallahu A’lam.
*Ainun Jariyah*.
*Kisah Perjuangan Wanita Penjaga Kebersihan Masjid*.
Wahai ibuku… Wahai saudariku… Janganlah Anda meremehkan amal kebaikan sekalipun kecil, dan ketahuilah bahwa Anda diseru untuk menunaikan tanggung jawab Anda dengan mencurahkan segenap kemampuan dan banyak berkorban dalam rangka menegakkan bangunan Islam yang agung.
Janganlah… dan sekali lagi janganlah Anda mengelak dan mundur dari berkhidmat kepada Islam karena anda merasa lemah, tidak ada kemampuan untuk ikut andil dalam menguatkan masyarakat Islam, sebab sesungguhnya perasaan-perasaan seperti itu merupakan rekayasa dari setan jin dan manusia.
Maka di sini kami hendak menyuguhkan sebuah kisah seorang wanita yang lemah dan berkulit hitam. Kisah ini merupakan sebuah pelajaran bagi kaum muslimin dalam hal kesungguhan, ketawadhu’an hingga sampai pada puncak semangatnya.
Beliau seorang wanita yang berkulit hitam, dipanggil dengan nama Ummu Mahjan. Telah disebutkan di dalam Ash-Shahih tanpa menyebutkan nama aslinya, bahwa beliau tinggal di Madinah [Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat (VIII/414)].
Beliau Radhiyallahu ‘anha seorang wanita miskin yang memiliki tubuh yang lemah. Untuk itu beliau tidak luput dari perhatian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sang pemimpin, sebab beliau senantiasa mengunjungi orang-orang miskin dan menanyai keadaan mereka dan memberi makanan kepada mereka, maka tidakkah anda tahu akan hal ini wahai para pemimpin rakyat?
Beliau Radhiyallahu ‘anha menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban terhadap akidahnya dan masyarakat Islam. Lantas apa yang bisa dia laksanakan padahal beliau adalah seorang wanita yang tua dan lemah? Akan tetapi beliau sedikitpun tidak bimbang dan ragu, dan tidak menyisakan sedikitpun rasa putus asa dalam hatinya. Dan putus asa adalah jalan yang tidak dikenal di hati orang-orang yang beriman.
Begitulah, keimanan beliau telah menunjukkan kepadanya untuk menunaikan tanggung jawabnya. Maka beliau senantiasa membersihkan kotoran dan dedaunan dari masjid dengan menyapu dan membuangnya ke tempat sampah. Beliau senantiasa menjaga kebersihan rumah Allah, sebab masjid memiliki peran yang sangat penting di dalam Islam. Di sanalah berkumpulnya para pahlawan dan para ulama’. Masjid, ibarat parlemen yang sebanyak lima kali sehari digunakan sebagai wahana untuk bermusyawarah, saling memahami dan saling mencintai, sebagaimana pula masjid adalah universitas tarbiyah amaliyah yang mendasar dalam membina umat.
Begitulah fungsi masjid pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pulalah yang terjadi pada zaman khulafa‘ur rasyidin dan begitu pula seharusnya peranan masjid hari ini hingga tegaknya hari kiamat.
Untuk itulah Ummu Mahjan Radhiyallahu ‘anha tidak kendor semangatnya, sebab pekerjaan itu merupakan target yang dapat beliau kerjakan. Beliau tidak pernah meremehkan pentingnya membersihkan kotoran untuk membuat suasana yang nyaman bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau dalam bermusyawarah yang senantiasa mereka kerjakan secara rutin.
Ummu Mahjan Radhiyallahu ‘anha terus menerus menekuni pekerjaan tersebut hingga beliau wafat pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ia wafat, para shahabat Ridhwanullahi ‘Alaihim membawa jenazahnya setelah malam menjelang dan mereka mendapati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam masih tertidur. Mereka pun tidak ingin membangunkan beliau, sehingga mereka langsung menshalatkan dan menguburkannya di Baqi‘ul Gharqad.
Pagi harinya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan wanita itu, kemudian beliau tanyakan kepada para sahabat, mereka menjawab, “Beliau telah dikubur wahai Rasulullah, kami telah mendatangi anda dan kami dapatkan anda masih dalam keadaan tidur sehingga kami tidak ingin membangunkan anda.” Maka beliau bersabda, “Marilah kita pergi!” Lantas bersama para shahabat, Rasulullah pergi menuju kubur Ummu Mahjan. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, sementara para sahabat berdiri bershaf-shaf di belakang beliau, lantas Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menshalatkannya dan bertakbir empat kali [lihat al-Ishabah dalam Tamyizish Shahabah (VIII/187)]
Sebuah riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang wanita yang berkulit hitam yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan dia, lantas beliau bertanya tentangnya. Mereka telah berkata, “Dia telah wafat.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau menyalatkannya, lalu bersabda:
“Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.” [Lihat al-Ishabah(VIII/187), al-Muwatha’ (I/227), an-Nasa’i (I/9) hadits tersebut mursal, akan tetapi maknanya sesuai dengan hadits yang setelahnya yang bersambung dengan riwayat al-Bukhari dan Muslim.]
Semoga Allah merahmati Ummu Mahjan Radhiyallahu ‘anha yang sekalipun beliau seorang yang miskin dan lemah, akan tetapi beliau turut berperan sesuai dengan kemampuannya. Beliau adalah pelajaran bagi kaum muslimin dalam perputaran sejarah bahwa tidak boleh menganggap sepele suatu amal sekalipun kecil.
Oleh karena itu ia mendapatkan perhatian dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallamhingga ia wafat. Sehingga beliau menyalahkan para shahabat beliau Ridhwanullahi ‘Alaihim yang tidak memberitahukan kepada beliau perihal kematiannya agar beliau dapat mengantarkan Ummu Mahjan ke tempat tinggalnya yang terakhir di dunia. Bahkan tidak cukup hanya demikian namun beliau bersegera menuju kuburnya untuk menshalatkannya agar Allah
menerangi kuburnya dengan shalat beliau. Wahai ibuku… wahai saudariku… tahukah Anda setelah ini apa yang dituntut dari Anda berupa andil yang telah Anda sumbangkan kepada agama dan umat?
*Ainun Jariyah*.
*Wahai Rasulullah SAW, Wahai Yang Menyempurnakan Janji*.
Wahai Rasulullah..
Wahai yang menyempurnakan janji, wahai yang berakhlak agung, wahai lautan kejernihan.
Engkau setelah Allah, sebaik-baik harapan dan pelindung, wahai pilihan, wahai Mustafa, wahai penutup para Rasul, wahai sebaik-baik manusia, wahai penolong yang sangat cepat, raihlah orang yang salah ini, hambamu yang durhaka, dosa-dosanya menjerumuskannya di (tempat yang menjadi) penghalang dan menjauhkannya serta melemperkannya di samudera kesedihan yang gelombangnya dari segala penjuru menggulung, maka ia datang padamu, lari dari dosanya dari waktu yang memusnahkan dan masa yang keadaannya telah terbalik, sehingga wajah menjadi berada dibelakang, dari kesusahan yang telah membinasakan, dari duka cita yang telah menyelimuti, , dari cobaan serta kedudukan yang tiada dapat menghilangkannya kecuali perhatianmu dan cukuplah itu. Maka selamatkanlah aku, dengan pertolongan segera, dan carilah aku (yang hilang ini..), wahai yang termulia…tolonglah aku, raihlah aku dan jadilah pelindungku.
Wahai pemimpin orang-orang lurus, jagalah aku dari semua yang ku berhati-hati darinya, dalam penghidupanku dan tempat kembali yang dekat, mohonkanlah pada Ar-Rahman (pemenuhan) kebutuhanku yang sangat mendesak dalam diri.
Engkaulah pintu Allah SWT, tercapailah harapan dan cita-cita, mereka yang berdiri disana. Engkaulah tali Allah yang memegangnya akan memperolah kebaikan dan menepati janji.
Wahai Rasulullah…wahai matahari petunjuk, setiap bahaya karenamu telah hilang. Wahai Rasulullah…Wahai samudera kemurahan, setiap kemurahan darimu telah dikenal. Wahai Rasulullah…Kekeringan dan kelaparan serta kemiskinan dibumi telah merebak.
Wahai Rasulullah…Mahalnya harga menghancurkan orang-orang miskin yang kelaparan dan lemah, tahun-tahun kekeringan membinasakan mereka, sehingga semuanya mendekati kematian, sedangkan pemilik harta dan kekayaan diantara meraka memiliki sifat kikir yang buruk lagi membinasakan, kekikiran tak membiarkan mereka berinfak di jalan Allah SWT yang memberi ganti (balasan amal). Maka, mereka yang dalam keadaan darurat (butuh bantuan) laksana ikan-ikan yang berada dalam lautan yang kering, penyebab semua ini adalah mereka semua telah melampaui batas. Maka, mintakanlah maaf bagi mereka wahai junjunganku, kepada Tuhanmu Maha Pengasih yang Maha Pemurah Maaf-Nya, mohonkanlah pada-Nya agar menurunkan hujan bagi mereka yang merata, yang melupakan kekeringan sebelumnya lalu manusia dapat hidup dengan layak, bersyukur kepada Allah SWT secara terang-terangan dan tersembunyi.
Tolonglah wahai Rasulullah…untuk menghilangkan bencana ini, hingga sirna sebab engkau punya derajat yang agung dan kedudukan terbesar lagi sempurna.
Ya Allah..berlemah lembutlah kepada kami, demi kedudukan Al-Mustafa dan curahkanlah hujan, sesungguhnya kami orang-orang lemah, kami telah bermaksiat lalu kami bertobat, maka ampunilah dan terimalah (taubat) orang-orang yang durhaka lalu mengakui dosanya. Hilangkanlah kelaparan dari muka bumi, juga kedzaliman dan ketidakadilan yang menebal. Tolonglah agama, tuntunlah pemeluknya dan bimbinglah penguasa agar memenuhi tanggung jawab.
Wahai yang Maha Mulia, wahai yang Maha Dermawan, Maha Mulia, wahai Maha Penyayang, wahai yang Maha Lembut diantara yang lembut, wahai yang Maha Mengetahui, wahai yang Maha Bijaksana pelimpah kebaikan, wahai yang berbelas kasih yang belas kasih-Nyatelah menimbulkan kasih saying, wahai yang besar Pemberian, anugerah karunia dan kebaikan-Nya sebagaimana yang telah disifatkan.
Semoga shalawat Allah meliputi Ahmad Al-Mustafa, yang meredamkan api syirik dan kekafiran, juga salam Allah beserta berkat-Nya atas keluarganya yang terhormat dan mulia, pula atas sahabat pengikut jejak mereka, terus menerus selama kilat bersinar berkibar dan angina sepoi yang harum berhembus, sebagai penawar dan obat hati yang sakit.
Allahumma Shalli Wasallim Wabarik `Alaih wa `ala Alih wa Ashabih….
*Ainun Jariyah*
*Doa Seorang Hamba.....*.
Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sungguh Engkau telah menjelaskan melalui kekesih-Mu Baginda Rasulullah SAW kepada kami tentang apa yang terbaik bagi kami. Jika kami melakukannya, maka kami akan diberi imbalan yang sangat agung di sisi-Mu dan juga Engkau telah menjelaskan kepada kami tentang yang buruk bagi kami dan jika kami melakukannya maka kami akan mendapatkan siksaan yang sangat pedih dari-Mu. Tapi sungguh kami merasa malas untuk melakukan yang baik bagi kami dan yang kami lakukan hanyalah dosa dan dosa tiada henti dan jika Engkau tidak mengampuni dan menyayangi, kami pasti akan celaka.
Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami mengakui bahwa sifat –sifat yang keji dan tercela masih melekat dihati kami dan sangatlah sulit untuk meninggalkannya. Sungguh kami merasa malau dan takut bertemu dengan-Mu. Maka ampunilah dan sayangilah kami.
Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sungguh Engkau telah mengetahui keadaan kami, dimana kemaksiatan telah merajalela dan sungguh kami tidak bisa menanggulanginya tanpa bantuan-Mu, maka bantulah kami ya Allah..
Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sungguh kami yakin bahwa kami akan kembali pada-Mu, maka berilah kami taufiq dan hidayah-Mu, agar kami bisa melakukan sesuatu yang bisa mendapatkan ampunan dan belas kasih sayang-Mu.
Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berilah kami ilmu yang bermanfaat dan berilah kami taufiq dan hidayah-Mu, agar kami bisa mengamalkannya dengan ikhlas, sungguh Engkaulah Dzat yang Maha Bisa.
Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berilah taufiq dan hidayah-Mu, agar kami bersemangat untuk menuju ridha-Mu dan lindungilah kami dari perbuatan yang bisa mendapatkan kemurkaan-Mu.
Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sungguh kami mengakui atas banyaknya dosa-dosa yang kami lakukan, maka ampunilah kami, karena jika Engkau tidak mengampuni, pasti kami akan celaka.
Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berikanlah kepada kami untuk bisa menc;intai segala amalan-amalan yang bisa meningkatkan keimanan dan jadikanlah hati kami agar senantiasa membenci segala perilaku yang menuju kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.
Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Berikanlah keringanan kepada kami terhadap segala ketentuan-Mu yang menimpa kepada kami.
Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sungguh Engkau telah berjanji akan menerima doa-doa dan taubatnya orang yang masih hidup. Maka Ampunilah kami wahai Dzat yang Maha Pengampun, sayangilah kami wahai Dzat yang Maha Penyayang dan kabulkanlah doa-doa kami wahai Dzat yang Maha mengabulkan.
Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Lindungilah umat keksih-Mu Baginda Nabi Muhammad SAW, sungguh mereka sedang mengalami serangan yang dahsyat dari syaitan dan antek-anteknya, agar berpaling dari jalan yang lurus menuju kemurkaan-Mu. Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami memohon dengan meratap kepada-Muagar Engkau memaklumi keadaan mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka, agar mereka selamat dari kemurkaan-Mu dan meninggal dalam keadaan khusnul khatimah.
Ya Allah ya Ilahi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kabulkanlah semua doa-doa kami, demi kemuliaan dan derajat kekasih-Mu Baginda Rasulullah SAW yang sangat agung dan demi rahasia-rahasia yang terkandung dalam surat Al Fatihah. Amin …amin..amin..ya Rabbal `Alamin..
Wa ila hadratinnabi Muhammad SAW Al Fatihah…
*Ainun Jariyah*
* Lidah ......Pedang Yang Bermata Dua*.
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي أكرم خواص عباده بالألفة في الدين، ووفقهم لإكرام عباده المخلصين، وزينهم بالأخلاق الكريمة والشيم الرضية، تأدباً بأفضل البشرية، وسيد الأمة محمد بن عبد الله بن عبد المطلب صلى الله عليه وسلم.
Lidah itu memang lunak tidak bertulang, oleh karena itu orang yang tidak menguasai ilmu beladiri sekalipun bisa bersilat lidah. Lihatlah ..si fulan yang kemarin mengatakan ‘a’ hari ini berbalik mengatakan ‘b’. si fulan yang lain, dusta ibarat gula-gula di lidahnya …
Lidah itu tajam laksana pedang bahkan ia adalah pedang bermata dua. Jika luka tersayat pedang tidaklah susah untuk diobati ..tetapi hati yang terluka ditikam kata-kata kemana kan dicarikan penawarnya? Entah berapa banyak persaudaraan terputus ditebas lidah dan tidak sedikit pula dua yang bersahabat jadi musuh bebuyutan karena tikaman lidah.
Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika ditanya siapa muslim yang paling afdhol? Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, “Orang yang selamat kaum muslimin dari lisan dan tanganya”.[1]
Lidah itu berbisa bagai lidah ular yang bercabang dua. Bahkan ia bisa lebih berbahaya dari pada bisa ular.
Lidah juga bisa berobah menjadi binatang buas yang bahkan memangsa tuannya sendiri. Makanya mulutmu harimaumu …
عن أبي هريرة ، أنه سمع النبي (صلى الله عليه وسلم) يقول : “إن العبد يتكلم بالكلمة ما يتبين فيها يزل بها إلى النار أبعد مما بين المشرق والمغرب”
Dari ia Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia mendengar Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau buruk,ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, bahwasanya seyogyanya bagi setiap mukallaf hendaklah ia menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang ada maslahat padanya. Apabila berbicara atau diam sama maslahatnya, maka yang sesuai sunnah adalah memilih diam. Karena terkadang ucapan yang mubah dapat menyeret kepada yang haram atau makruh, bahkan galibnya inilah yang terjadi, dan keselamatan tidak ada yang bisa menyamai harganya”.[2]
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Termasuk baiknya islamnya seseorang meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya”.[3]
Jagalah lidahmu duhai saudara
Jangan sampai ia mematukmu, karena dia adalah ular yang bisa
Tidak sedikit orang yang terkubur dibunuh lidahnya
Padahal para pemberani takut menghadapinya.
Seorang muslim, ketika dia hendak berbicara, ia menimbang apakah berguna atau tidak? Jika tidak berguna dia memilih diam. Jika ternyata berguna dia menimbang lagi ..apakah jika dia diam manfaatnya lebih besar dari pada berbicara?
Imam Asy-Syafi’I berkata, “Jika seseorang berbicara hendaklah ia memikirkan sebelum mengucapkannya, jika nyata maslahatnya ia berbicara dan jika ia ragu, ia diam sampai jelas maslahatnya”.[4]
Beliau juga pernah menasehati sahabat yang juga muridnya, “Hai Robi’, janganlah kamu berbicara dalam perkara yang tidak berguna bagimu. Sesungguhnya jika engkau mengucapkan satu kata, ia akan menguasaimu dan engkau tidak bisa menguasainya”.[5]
Lidah adalah duta hati, jika engkau ingin mengetahui hati seseorang, lihatlah apa yang biasa dia ucapkan. Sesungguhnya itu akan menyingkap apa yang dihatinya, suka atau tidak suka.
Karena lidah itu itu seperti kuali yang mendidih, lidah adalah sendoknya. Perhatikanlah ketika seseorang berbicara, sesungguhnya ia sedang menyendokkan isi hatinya kepadamu, dengan beragam rasa, pahit, manis, asam, pedas dan lainnya. Sebagaimana engkau bisa merasakan masakan dalam kuali dengan lidah. Engkau juga bisa merasakan hati lawan bicaramu dengan gerak lidahnya ketika bertutur-kata.
Sungguh mengherankan, seseorang bisa dengan mudah menjaga dirinya dari memakan yang haram, berbuat zalim, zina, mencuri, meminum khamar dan dari memandang yang haram, tetapi tidak bisa menahan gerak lidahnya yang lunak tidak bertulang. Bahkan seseorang yang zohirnya ta’at, berwibawa, sopan tetapi dia membiarkan lidahnya mengucapkan kalimat yang dianggapnya sepele padahal satu kalimat itu saja cukup untuk mencampakkannya ke dalam neraka.
Suatu malam, di salah satu villa Malibuanai Padang Panjang, saya berkumpul bersama beberapa ikhwan yang sebagian besarnya masih awwam dalam hal agama.
Lalu secara dadakan, mereka meminta kesediaan saya untuk memberikan sepatah dua kata naseha. Dalam rombongan itu ada seorang pria yang baru mulai belajar mendekatkan diri kepada Allah ..sisa-sisa kelalaian masih membekas diraut wajahnya.
Salah seorang yang tampak agak lebih tua, membuka majelis. Entah apa yang ada dalam benaknya ketika itu, dia berbicara menyindir salah seorang yang hadir – mungkin niatnya baik, ingin mengingatkan si fulan – ia berkata, “Nanti di hari kiamat, pak fulan masuk surga. Saya masih mencari-cari. Saya bertanya, ‘Pak fulan, mana si fulan’[6]. Pak … menjawab di sebelah’. Saya lihat ke sebelah rupanya di neraka”.
Semua yang hadir gelak terbahak-bahak. Rasa sedih, kasihan, marah membuat saya bungkam menghimpun aksara dan petuah yang semoga berguna bagi diri saya dan yang hadir khususnya pembuka acara yang salah kaprah menghunus lidahnya.
Saya jadi teringat hadits Nabi shollallahu ‘alahi wasallama yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jundub rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak mengampuni si fulan’. Maka Allah berkata, “Siapa orang yang lancang mendahuluiku mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan Aku hapus amalanmu”.
Ya Allah …
Satu kalimat saja yang dianggapnya remeh menghapuskan amal-amalnya.
Hilanglah sholat yang dulu dikerjakannya
Lenyaplah puasa yang dulu ditunaikannya
Sirnalah zakat, qiyam dan amal kebajikannya.
Karena kelancangan lidahnya mendahului apa yang menjadi hak Allah.
Bahkan orang yang dipandangnya rendah dan hina, yang dia kira masuk neraka. Malah diampuni Allah Ta’ala.
Dahulu, para salafus sholeh sangat menjaga lidah mereka. Setiap saat mereka meng-hisab kalimat yang mereka ucapkan.
Ibnu Buraidah berkata, “Aku melihat Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma memegang lidahnya lalu berkata, ‘Katakanlah yang baik engkau pasti beruntung. Atau diamlah dari keburukan engkau pasti selamat’. Maka ditanyakan kepadanya, ‘Kenapa engkau mengucapkan ini?’. Ia menjawab, “Aku dengar, bahwasanya seorang manusia tidak lebih menyesal dan marah kepada anggota tubuhnya selain dari pada lidahnya kecuali orang yang mengucapkan kata-kata yang baik atau menukilkan yang baik dengan lidahnya”.
Sahabat Ibnu Mas’ud bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada Ilah yang diibadati dengan hak melainkan Dia bahwa tidak ada dimuka bumi ini yang lebih patut untuk dipenjarakan dari pada lidahnya.
Yunus bin ‘Ubaid berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang lidahnya terjaga melainkan aku melihatnya pula pada seluruh amalannya. Dan seorang yang rusak tutur katanya melainkan aku melihatnya tampak pada seluruh amalanya”.
Fudhoil bin ‘Iyadh berpetuah, “Barangsiapa yang menganggap perkataannya bagian dari amalnya, niscaya sedikit perkataannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat”.
Gerakan anggota tubuh yang paling ringan adalah lidah, namun itu pula yang paling besar bahayanya bagi seorang manusia.
Abu Hatim rahimahullah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal agar berlaku adil kepada telinga dan mulutnya. Dia harus tahu, bahwa ia diberi dua telinga dan satu mulut adalah agar ia lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Karena kalau dia berbicara bisa jadi dia akan menyesali dan apabila tidak berbicara dia tidak menyesal. Dan dia akan lebih mudah membantah apa yang tidak dia ucapkan dari pada membantah apa yang telah dia ucapkan”.
Dulu, sebagian ulama tidak menerima hadits dari orang-orang yang berbicara atau mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak patut.
Pernah dikatakan kepada Al-Hakam bin Utaibah, “Kenapa engkau tidak menulis hadits dari Zaadaan?”. Ia menjawab, “Dia banyak bicara”.
Lidah dapat menyebabkan dua petaka besar, jika seseorang selamat dari yang satunya belum tentu selamat dari yang berikutnya.
Dua petaka atau bencana itu adalah : petaka berbicara dan petaka diam.
Seorang yang bungkam dan mendiamkan kebenaran adalah setan yang bisu, bermaksiat kepada Allah, bermuka dua dan menjilat , jika dia tidak mengkhawatirkan bahaya atas dirinya.
Dan orang yang mengucapkan perkataan yang batil adalah setan yang berbicara, bermaksiat kepada Allah dengan kata-kata yang ia ucapkan.
Adapun orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus – semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan mereka – berada di antara dua petaka tersebut. Mereka menahan lidah mereka dari perkataan yang batil dan melepaskannya untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat kepada mereka di akhirat. Oleh karena itu, kita tidak adakan dapatkan salah seorang mereka melontarkan kata-kata yang tidak mendatangkan manfaat apalagi yang bisa membahayakan di akhirat.
Seorang mukmin sepatutnya memiliki tutur-kata yang santun, bersih dan terjaga.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Bukanlah seorang mukmin itu suka mencela, melaknat, berkata yang keji dan kotor”.[7]
Seorang hamba, bisa jadi di hari kiamat datang membawa kebaikan sebesar gunung, lalu dia dapatkan ternyatalidahnya telah memusnahkan semuanya. Atau sebaliknya, dia datang membawa kesalahan yang banyak ternyata lidahnya menghapusnya karena dia banyak berdzikir dan yang berkaitan dengannya.
Ketika seseorang datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama lalu berkata, “Hai Rasulullah nasehatilah aku’”. Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Jika engkau berdiri dalam sholatmu, maka sholatlah seolah-olah itu sholat terakhirmu. Dan janganlah engkau mengucapkan kalimat yang esok membuatmu menyesal dan bulatkanlah bersungguh-sungguhlah memutus harapan terhadap apa yang ada ditengan manusia”[8].
Kalau saja setiap kita memegang tiga wasiat ini; sholat dengan khusyu’, menjaga lidah, dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah, niscaya keberuntungan menyertai langkahnya.
Oleh karena itu ketika Uqbah bin Amir bertanya kepada Rasulullah, “Apa keselamatan itu?”. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, “Tahanlah lidahmu dan jadikanlah rumahmu lapang bagimu, serta tangisilah kesalahanmu”[9].
Semoga Allah menjaga kita semua dari petaka lidah …
Semoga Allah menguatkan kita untuk menyuarakan kebenaran
Semoga Allah menguatkan kita untuk menahan lidah dari kebatilan, amin.
*Ainun Jariyah*.
[1] Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ary.
[2] Al-Adzkar Imam An-Nawawi (1/332).
[3] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2318) dari Abu Hurairah.
[4] Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/332).
[5] Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/335).
[6] Maksudnya menyindir seseorang yang saya sebutkan sebelumnya.
[7] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari di Adabul Mufrod, At-Tirmidzi, Al-Hakim dan lainnya. Dishohihkan Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dan Al-Albani. (Ash-Shohihah 1/319 no. 320).
[8] Diriwayatkan oleh Ahmad dan Baihaqi dan dishohihkan oleh Al-Albani (Shohih Al-Jami’ no. 742)
[9] Diriwayatkan oleh Abdullah bin Al-Mubaarok dalam Az-Zuhud (no.134), Ahmad (5/259) dan At-Tirmidzi (2/65) (Ash-Shohihah 2/581).
*LARANGAN MENGHARAP/MEMINTA BERKAH DARI MAKHLUK*.
LARANGAN MENGHARAPKAN/MEMINTA BERKAH DARI POHON, BATU DAN SEJENISNYA.
عن أبي واقد الليثي – رضي الله عنه – قال : خرجنا مع رسول اللهr إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر ، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط ، فمررنا بسدرة ، فقلنا يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط ، كما لهم ذات أنواط فقال رسول اللهr : « الله أكبر إنها السنن قلتم والذي نفسي بيده ، كما قالت بنو إسرائيل لموسى : ] اجعل لنا إلهاً كما لهم آلهة قال إنكم قوم تجهلون [ لتركبن سنن من كان قبلكم »
Artinya : Dari Abu Waqid Al-Laitsi semoga Allah meridhoinya ia berkata, “Kami pergi bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menuju Hunain. Dan ketika itu kami baru meninggalkan kekufuran. Orang-orang musyrikin mempunyai Sidroh (sejenis pohon) , mereka beri’tikaf di dekatnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya. Pohon itu disebut Dzaatu Anwath. Maka kami melewati sebuah pohon sidroh. Kami pun berkata, ‘Ya Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwath seperti yang mereka miliki’. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Allahu Akbar .. sesungguhnya itu adalah jalan-jalan (orang-orang sebelum kalian). Kalian telah mengatakan demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya sebagaimana ucapan Banu Israil kepada Musa (jadikanlah untuk kami tuhan-tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan. Ia (Musa) berkata : sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh).
Sungguh, kalian pasti akan mengikuti jejak-jejak orang-orang yang seblum kalian”.
(Dikeluarkan oleh Ahmad 5/228, At-Tirmidzi 4/475 kitab Al-Fitan no.2180, Abdurrozaq 11/369 no. 20763, Ibnu Jarir 9/45-46, Ibnul Mundzir di Ad-Durrul Mantsur 3/533, Abu Hatim 3/275 no. 3290-3294 dan Ath-Thobroni)
MAKNA HADITS
Dalam perang Hunain, ikut serta dalam pasukan Rasulullah shollallahu alaihi wa sallama orang-orang yang baru masuk islam. Kaki mereka belum kokoh di atas islam, dan belum paham dakwah islamiyah serta akidah-akidah dan landasan-landasanya, karena mereka belum lama meninggalkan jahiliyah dan syirik. Ketika mereka melewati orang-orang musyrikin yang sedang I’tikaf di di dekat sebuah pohon mengharapkan berkah dan mengagungkan pohon itu. Tatkala orang-orang yang baru masuk islam itu melihat mereka melakukan itu, mereka meminta Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama membuatkan untuk mereka pohon tempat mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dengan tujuan mengharapkan berkah dari pohon itu – bukannya mengibadatinya – mereka mengira bahwa islam mengizinkan tabarruk (mengharapkan berkah) seperti ini, dan bahwasanya dengan itu mereka dapat meraih kemenangan atas musuh-musuh mereka.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama terkejut mendengar permintaan yang aneh ini. Maka beliau mengucapkan kalimat yang agung, yang seharusnya menjadi pelajaran bagi umat sampai hari kiamat, beliau berkata (Allahu Akbar .. sesungguhnya itu adalah jalan-jalan (orang-orang sebelum kalian). Kalian telah mengatakan demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya sebagaimana ucapan Banu Israil kepada Musa (jadikanlah untuk kami tuhan-tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan. Ia (Musa) berkata : sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh).Sungguh, kalian pasti akan mengikuti jejak-jejak orang-orang yang seblum kalian.
Kaum muslimin teramat membutuhkan untuk memahami pelajaran ini. Begitu juga para ulama seyogyanya mereka menyuarakan kalimat yang kuat ini kepada orang-orang yang mengharap berkah dari makhluk yang hidup maupun yang sudah mati, pohon-pohon dan bebatuan. Karena mereka mengira itu dari islam. Dan mereka dibohongi oleh orang-orang yang tidak takut kepada Allah serta tidak mengharapkan Allah dan hari akhir dari para penyembah harta dan kedudukan. Mereka memanfaatkan emosi orang-orang bodoh dan awam. Sehingga mereka memegang kebatilan dan mendorong mereka untuk memerangi kebenaran dan tauhid.
Kesimpulan Hadits :
1. Larangan menyerupai orang-orang jahiliyah.
2. Bahwasanya perbuatan Bani Israil yang dicela, juga tercela bagi umat ini jika melakukannya.
3. Di dalam hadits ini ada isyarat kepada kaedah (Saddudz Dzari’ah) atau menutup pintu keburukan.
4. Di dalam hadits ini juga terdapat mu’jizat Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, karena apa yang disabdakannya terbukti.
5. Wajib takut terhadap kesyirikan. Dan bahwasanya seseorangitu bisa jadi menganggap baik sesuatu, dan ia mengiranya itu bisa mendekatkan dia kepada Allah, padahal malah menjauhkannya dari rahmat Allah, dan mendekatkannya kepada kemurkaan-Nya.
(diringkas dari : Mudzakkiroh Al-Hadits An-Nabawy fil Akidah wal It-Tiba’ karangan Syaikh Robi bin Hadi Al-Madkholi, halaman 17-19).
… Aku Hidup Untuk Yang Menghidupkanku dan Aku Mati Untuk Yang Mematikanku …
*Ainun Jariyah*
*Apa Jawaban - mu ........Wahai Saudaraku ...???*.
بسم الله الرحمن الرحيم
Saudaraku …
Apa hukumanmu kepada seorang yang engkau amanahkan sebagian hartamu agar ia mengelolanya dengan cara yang telah disepakati, lalu ia mengingkari hartamu itu?
Jika engkau berkuasa dan sanggup untuk menghukumnya, apa yang akan engkau lakukan kepadanya?
Apa hukumanmu kepada seorang yang melanggar kehormatan rumahmu, dan merusak harga diri serta hartamu?
Apa yang akan engkau lakukan kepadanya, kalau engkau mempunyai kekuatan dan kemampuan?
Apa hukumanmu kepada seorang yang mengintip-intip aib rumahmu, mengintai keluargamu dari celah pintu?
Kalau urusan ini diangkat kepadamu, dan diserahkan kepadamu untuk memutuskan hukuman atas perbuatannya ini, apa hukuman yang akan engkau berikan kepada orang ini?
Saudaraku, kalau ditanyakan kepadamu kenapa engkau jatuhkan hukuman itu kepadanya?
Mungkin engkau terheran-heran dengan pertanyaan ini, dan engkau jawab, “Dia telah menyakiti diriku, keluarga dan juga hartaku”. Ya, Apalagi yang engkau tunggu setelah perbuatanya itu? Dia berhak mendapatkan hukuman yang berat. Bahkan kalau ada lagi hukuman yang lebih berat dari itu kita tidak akan ragu untuk menjatuhkannya kepadanya.
Baiklah!
Apa hukumanmu kepada orang yang menyakiti Allah dan RasulNya?
Mungkin engkau akan berkata, siapa yang berani melakukan itu?
Sabar, jangan tergesa-gesa menghukumi saudaraku. Bisa jadi engkau termasuk orang yang menyakiti Allah dan RasulNya! (semoga saja tidak seperti itu)
Dengarkanlah firman Robbmu,
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا الأحزاب : 57
Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya, Allah melaknat mereka di dunia dan akhirat serta menyiapkan untuk mereka azab yang hina”.
Tahukah engkau bagaimana itu bisa terjadi?
Dengan mendustai Allah, dengan mencelaNya, dengan mensifatiNya dengan sifat lemah, atau menisbatkan anak kepadaNya, atau sekutu atau menandingi perbuatanNya dalam penciptaan.
Dengarkanlah hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama,
(( ما أحد أصبر على أذى سمعه من الله ، يدعون له الولد ، ثم يعافيهم ويرزقهم ))
“Tidak ada yang lebih sabar terhadap gangguan yang didengarnya dari pada Allah, mereka mengangapNya mempunyai anak, kemudian Ia membiarkan mereka dan memberi mereka rizki”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan dengarkan juga hadits Nabimu shollallahu ‘alaihi wasallama tentang para pelukis (makhluk yang hidup),
(( أِشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يضاهون بخلق الله ))
“Manusia yang paling keras azabnya di hari kiamat adalah orang-orang yang meniru-niru ciptaan Allah”. (Muttafaqun ‘Alaih)
Oleh karena itu Allah mengingatkan kita terhadap siksaNya,
﴿ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ ﴾ [آل عمران : 28]
“Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan Hanya kepada Allah kembali (mu)”.
Allah Ta’ala telah memberikan peringatan kepada kita atas kemungkaran-kemungkaran dan kekejian yang apabila seorang hamba mengerjakannya maka ia dengan perbuatannya itu telah menyakiti Robbnya.
Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda,
(( ما من أحد أغير من الله ، من أجل ذلك حرم الفواحش))
“Tidak ada yang lebih cemburu dari pada Allah, oleh karena itu Ia mengharamkan perbuatan keji”. (HR. Muslim)
Wahai saudaraku yang tercinta,
Apa yang engkau lakukan kalau engkau melihat seseorang menghentikan seorang wanita di jalan kemudian ia menciumnya?
Jika engkau sanggup mencegahnya apakah engkau akan mencegahnya atau tidak?
Dan bagaimana pula kalau engkau bersama putrimu, apakah engkau rela ia menonton pemandangan ini dengan kedua matanya, ataukah engkau berusaha secepatnya membawanya menjauh dari pemandangan ini. Apakah engkau rela kalau putrimu adalah wanita yang dihentikan oleh laki-laki itu lalu ia melakukan perbuatan tersebut dengannya? Bagaimana kalau pemandangan ini terjadi dirumahmu?
Apa pendapatmu jika engkau mengundang laki-laki dan wanita itu kerumahmu. Apakah engkau akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbuat apa yang mereka inginkan, bahkan engkau kumpulkan keluargamu; istri, putra dan putrimu, ibu dan saudarimu untuk menyaksikan pemandangan ini?
Apa vonismu terhadap laki-laki seperti ini?
Jika itu memang terjadi, apa yang akan engkau katakan dan engkau perbuat?
Mungkin engkau akan mengatakan, “ini tidak sejalan dengan sifat-sifatku sebagai seorang laki-laki”.
Engkau benar, seperti ini tentu tidak diridhoi oleh seorang laki-laki yang memiliki hati dan karakter seorang laki-laki sejati membuat manusia tidak menyetujui hal seperti itu.
Akan tetapi, inilah realita yang terjadi setiap hari di kebanyakan rumah-rumah kaum muslimin. Bahkan mereka menganggap biasa hal tersebut!!
Apa beda antara yang saya gambarkan dengan apa yang ditampilkan di layar televisi di rumahmu? Janganlah berusaha untuk menipu diri sendiri, dan janganlah engkau menghiasi kebatilan!! Kenapa engkau masih saja suka menyaksikan film, sinetron dan acara tv lainnya yang tidak sepi dari kemungkaran??!! Padahal engkau telah mengetahui hukumnya!!
Apa pendapatmu?!
Apakah engkau akan mengatakan, “Ah, itukan hanya film .. sinetron”. Relakah engkau menjadi seorang dayyuts?!
Kalau putrimu atau istrimu melakukan perbuatan itu, lalu ia berkata kepadamu, “Aku hanya memerankan perbuatan itu seperti yang kami saksikan”. Mungkinkah darah mengelegak di dalam nadi-nadimu, atau cukup bagimu dia beralasan ini hanya film atau drama untuk membungkammu, kemudian engkau mengatakan kalau begitu itu bukan yang sebenarnya?!!
Saya yakin, engkau akan merasa tersakiti dengan itu.
Lantas bagaimana menurutmu orang yang menyakiti Allah Ta’ala dan RasulNya shollallahu ‘alaihi wa sallama?
Apa itu mungkin terjadi?!
Engkau dengan rokokmu yang tidak berhenti mengepulkan asap!
Engkau dengan solekan dan hiasanmu yang engkau bawa di hadapan orang-orang yang bukan mahrommu!
Engkau dengan ikhtilat (campur-baur)mu dengan wanita-wanita bukan mahrom!
Engkau dengan ghibah dan namimahmu!
Engkau dengan transaksi ribawimu!
Engkau dengan perbuatan mungkar dan maksiatmu serta mendiamkannya terjadi di depan matamu padahal engkau sanggup mengingkarinya!
Engkau ketika suka tersebarnya perbuatan keji di tengah orang-orang beriman!
Engkau dengan kelalaianmu dalam menjalankan keta’atan!
Engkau dengan penolakanmu terhadap syari’at islam!
Apakah itu tidak termasuk menyakiti Allah dan RasulNya?
Apa prasangkamu terhadap Robbmu hai saudaraku??
﴿ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴾ [ الزمر : 67]
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi dia dari apa yang mereka persekutukan.
Apa prasangkamu terhadap Robbmu?!
Apakah engkau mengira bahwasanya Allah lemah dan tidak kuasa?!
Apakah engkau mengira bahwasanya Allah tidak sanggup menurunkan kepada kita hukuman atau hujan batu dari langit?
Apakah engkau mengira bahwa Allah tidak melihat dan tidak mendengar?!
Apakah engkau mengira bahwasanya Allah bukan Aziz (Maha Perkasa) dan Dzu Intiqoom (memiliki pembalasan)?!
Apa yang ada dalam benakmu saudaraku, ketika engkau menentang dan menantang Robbmu serta meremehkan Kalam Robbmu?
Realitamu seolah-olah mengatakan sesungguhnya Allah tidak kuasa atasmu, aku merdeka melakukan apa saja yang kuinginkan dan kumau, tidak pantas bagi Allah untuk ikut campur urusanku!!
Apa prasangkamu hai saudaraku
Ketika engkau bersikukuh melakukan mu’amalahmu tidak sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan Allah untuk kita?
Engkau masih saja melakukan mu’amalah ribawiyah, alasanmu hanyalah bahwasanya dunia semuanya melakukan itu, seolah-olah Robbmu harus meridhoi perbuatan manusia ini. Dan engkau masih saja dengan sikap keras kepalamu, kesombonganmu, seolah-olah engkau tidak ridho kecuali kalau engkau memusuhi dan menantang Robbmu!!
Apa yang engkau pikirkan saudaraku!
Ketika engkau masih saja larut dalam kemungkaran dan perbuatan keji yang dilarang Allah? Seolah-olah dirimu telah menganggap baik perbuatan mungkar, dan hatimu puas dengan perbuatan-perbuatan keji itu?!
Apa yang engkau tunggu dari Robbmu?!.
﴿ هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن تَأْتِيهُمُ الْمَلآئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انتَظِرُواْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ ﴾ [الأنعام : 158].
Artinya, “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu Sesungguhnya kamipun menunggu (pula)”.
Terakhir .. seruanku untukmu wahai saudaraku,
﴿ وَيَا قَوْمِ اعْمَلُواْ عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ وَارْتَقِبُواْ إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ ﴾ [ هود : 93].
Artinya, “Dan (Dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. dan tunggulah azab (Tuhan), Sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu.”
﴿ قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُواْ عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدِّارِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴾ [ الأنعام : 135]
Artinya, “Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.”
Semoga Allah Ta’ala membimbing langkah kita untuk kembali ke jalan yang
lurus dan meneguhkan kita di atasnya hingga desah nafas terakhir .. Aamiin.
*Ainun Jariyah*.
*TEMPAT KEMBALI YANG HAKIKI …*.
Secara fitrah, segala sesuatu selalu punya kecenderungan untuk kembali kepada fitrah asalnya. Saripati tanah pastilah punya keinginan untuk kembali kepada tanah pula. Siapapun tidak akan bisa menolak bahwa saripati tanah yang boleh jadi bentuknya berbeda-beda, misalnya, dalam bentuk tubuh manusia, tubuh hewan, dan tanaman, pada saat yang tepat pastilah akan kembali menjadi tanah. MATI.
Oleh sebab itu untuk kembali membuka kesadaran kita kepada yang tidak sama dengan tanah, yang bukan tanah, maka janganlah coba-coba untuk membawa-bawa tanah itu menghadap kepada yang bukan tanah. Jangan bawa mata untuk melihat yang bukan tanah. Jangan bawa telinga untuk mendengar yang bukan tanah. Jangan bawa otak untuk memikirkan yang bukan tanah. Jangan bawa dada untuk merasakan yang bukan tanah. Karena mata, telinga, otak dan dada itu nanti akan sirna dimakan ulat dan belatung setelah semuanya itu ditanam kembali di dalam tanah, setelah semua itu tidak berfungsi. MATI.
Tapi jangan pula mata, telinga, otak dan dada itu dimatikan seperti ajaran mematikan dan menutup “hawa songo” dalam praktek kebatinan tertentu. Hanya lewati saja kesemuanya itu seperti lewatnya angin dan cahaya di udara terbuka yang tidak ada tumbuhan, tidak ada bangunan, tidak ada gunung yang menghalangi. Tanpa hambatan, tanpa tekanan. Atau RILEKS dalam bahasa populernya. Seperti rileksnya mata, telinga, otot, otak dan dada seorang bayi. Nggak susah kok untuk rilkes ini. Sudah rileks….???.
Kalau sudah, maka hampir secara otomatis kita akan mempunyai kesadaran bahwa kita ternyata meliputi seluruh Nafs atau diri kita. Lalu lupakan sajalah seluruh atribut dan fenomena Nafs itu. Lalu yang tinggal adalah SAYA, Sang MIN-RUHI, SANG BASHIRAH, SANG AKU DIRI.
Nah…, mari kita lanjutkan tentang bagaimana proses Sang Aku Diri ini luruh ke dalam pelukan Sang Aku Hakiki, ALLAH:
· Sekarang munculkan afirmasi atau niat, bahwa saya tidak tahu tentang Allah. Saya tidak tahu bagaimana cara sadar dan ingat kepada Allah (DZIKIRULLAH). Karena yang tahu tentang Allah adalah Allah sendiri. Lagi pula…, sudah sekian lamanya saya TERTUTUP oleh kecenderungan Nafs (Hawa un Nafs) untuk SADAR dang INGAT kepada ALLAH. Oleh sebab itu mulai saat ini, saat ini juga, tanamkanlah sebuah afirmasi atau niat yang kuat bahwa saya punya Tuhan yang Nama-Nya adalah ALLAH.
· Kemudian munculkan sebuah rasa ingin yang sangat kuat (jahadu) agar diajarkan oleh Allah tentang Allah sendiri.
“Allahumma ‘ala dzikrika”
Ya Allah dzikirkan saya, ingatkan dan sadarkan saya.
Ajarkan saya untuk bisa ingat dan sadar kepada-Mu.
Saya tidak bawa apa-apa selain hanya PENGETAHUAN bahwa Engkau Maha Meliputi Segala Sesuatu dan Engkau tidak sama dengan segala apapun juga”.
Kalau perlu ulangilah niat untuk ingin di tuntun oleh Allah ini dengan kerendahan hati yang amat sangat (tadarru’).
· Saya lalu mengucapkan langsung (tanpa perantara dan wasilah apapun) kepada Wajah Sang Maha Meliputi ungkapan persaksian dan shalawat sebagai berikut:
Bimillahirrahmanirrahim,
Asyhadu anlaa ilaaha illallah,
Wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad.
· Lalu panggil-panggillah Nama Sang Maha Meliputi itu dengan teguh:
Ya Allah…, Ya Rahman…!.
Ulangilah memanggil-manggil Ya Allah, Ya Rahman ini beberapa kali dengan kerendahan hati yang amat sangat, sampai nantinya muncul tarikan rohani kearah yang Maha Tinggi. Biasanya munculnya tarikan rohani ini tidaklah terlalu lama setelah kita memanggil-manggil Allah. Paling dalam hitungan menitan. Kalau dalam waktu 3 menit berselang belum juga muncul tarikan rohani ini, maka jangan diteruskan. Percuma saja. Karena kalau sudah lebih dari 3 menit tapi nggak ada tarikan rohani juga, maka yang muncul kemudian adalah fikiran kita. Kita mulai mikirin tentang bagaimana tarikan rohani itu, bagaimana direspon Tuhan, dan sebagainya. Kalau sudah begini maka istirahatlah sebentar, dan kemudian mulailah lagi dari awal.
· Kalau tarikan rohani itu muncul, maka jangan takut, jangan dilawan, dan jangan dipikirkan. Karena kalau takut, atau dilawan, atau dipikirkan, maka seketika itu juga tarikan itu akan lenyap. Sebenarnya tarikan rohani itu hanyalah sebuah pergerakan kesadaran kita saja dari kesadaran ketubuhan (Nafs) menuju kesadaran yang mengatasi Nafs menuju ketidakberhinggaan. Akan tetapi, dalam pergerakan kesadaran demi kesadaran itu kita seperti DITUNTUN. Jadi bukan karena usaha kita sendiri lagi. Tapi dituntun, ditarik. Nah…, ikuti sajalah tuntunan itu. Biasanya respon akibat dari adanya tuntunan itu adalah, dada kita berguncang, atau tepatnya diguncangkan dari dalam, sehingga kita bisa dibuat histeris, menangis dan bahkan tersungkur saking dahsyatnya tarikan rohani itu.
· Kemudian pada saatnya, respon dengan rasa ditariknya rohani kita itu akan berhenti dan berganti dengan munculnya rasa tenang, damai, luas yang dalam bahasa Al Qur’an disebut dengan TALINU (lihat Az Zumar 23).
· Dan bacalah, IQRA suasana tenang, damai, dan luas itu, karena disana sungguh sangat tidak terhingga ilmu pengetahuan maupun solusi dari berbagai persoalan. Di wilayah itu semuanya digeletakkan begitu saja oleh Allah untuk menunggu manusia-manusia yang mau otaknya dialiri fikiran Tuhan, yang mau dadanya dialiri oleh kehendak Tuhan. Ya…, manusia yang mau menjadikan dirinya sebagai wakil Tuhan, yang mau meneruskan tongkat estafet perjuangan Rasulullah. “Sedangkan untuk bekalnya…, semuanya dari-Ku”, kata Allah menjamin. Kita hanya tinggal memunguti bekal itu sesuai dengan kebutuhan.
· Lalu nikmatilah hasil dari IQRA (membaca) suasana per suasana itu dalam bentuk RASA MENGERTI .
Catatan:
Oleh sebab itu selalulah perkuat rasa mau belajar kepada Allah, berguru kepada Allah. Lalu tanamkan juga niat yang kuat bahwa saya akan IKUT MAU-NYA ALLAH. Sikap ini merupakan sikap dasar yang harus dimiliki oleh seseorang yang tidak tahu dan ingin menjadi tahu. Karena memang hanya inilah modal kita yang ada pada kita. Dengan sikap ini kita dituntun untuk SADAR PENUH kepada Tuhan. Kalau sudah sadar penuh kepada Allah, maka kita dengan senang hati akan ikut mau-Nya Allah. Dan kalau kita sudah ikut mau-Nya Allah maka kita akan dituntun dari satu keadaan ke keadaan lain, dari satu suasana ke suasana lain, dari satu pengetahuan ke pengetahuan lain. Bukankah tuntunan Tuhan ini yang selalu kita pohonkan dalam setiap shalat kita…?. Kita selalu mengeluhkan kepada Allah: “Iyyaka na’budu wa iyya ka NASTA’IN…?”. Tuntun saya ya Allah…!.
· Nah…, kalau suasana ajar mengajar antara seorang hamba dengan Sang Maha Guru, ALLAH, ini sudah bisa kita dapatkan, maka tinggal kita nikmati saja pemahaman-pemahaman yang lainnya, misalnya:
Ø Tuhan itu siapa..?.
Tuhan adalah yang Dzat Yang Maha Dahsyat, Sang Pencipta alam semesta dengan tidak sia-sia, bumi, matahari, bintang-bintang, tumbuhan, termasuk diri kita. Seluruh ciptaan-Nya bermanfaat, tidak ada yang sia-sia. Malaikat, bahkan iblis sekalipun akan bermanfaat bagi manusia. Deerrr…!, maka masukilah wilayah KESADARAN akan kedahsyatan Tuhan itu.
Ø Tuhan Maha Meliputi segala sesuatu.
Kita, tubuh kita juga diliputi Nya. Amati liputan Tuhan itu terhadap jantung, darah, paru-paru, otak, semuanya. Nafas kita juga diliputi oleh Tuhan. Amati kerja tuhan pada tubuh kita. Ternyata karsa, keinginan, kesibukan Tuhanlah yang bekerja atas semua yang ada di dalam tubuh kita itu. Seperti juga karsa Tuhan terhadap alam semesta. Deerrr…!. Masukilah wilayah KESADARAN akan kedahsyatan karsa Tuhan itu. Lalu histeris, terpana, terkapar, adalah sebuah keniscayaan saja.
Ø Sadari akan alam RASA melihat, alam RASA mendengar, alam RASA tahu, masuklah ke wilayah KESADARAN RASA-RASA itu tadi.
Nanti kita akan dibawa sadar, dituntun sadar bahwa ternyata yang melihat itu bukanlah mata saya, tapi ada rasa melihat yang mengalir melewati mata itu. Kita akan dibawa untuk sadar bahwa yang mendengar itu ternyata bukanlah telinga saya, tapi ada rasa mendengar yang mengalir melewati telinga itu. Kita akan disadarkan pula bahwa yang tahu itu bukanlah otak saya, tapi ada rasa tahu yang mengalir melewati otak saya. Begitu juga dengan rasa tenang, damai, dan bahagia. Ternyata semuanya itu hanya sekedar rasa yang dialirkan melewati dada saya. Amatilah semua alam rasa-rasa tadi itu. Karena disitu juga sangat kaya, melimpah ruah, dengan pengajaran dan tahu. Akan tetapi bagi yang mau masuk ke wilayah kearifan, maka semua pengajaran dan tahu tadi itu hanya akan dilihat dengan selayang pandang saja. Karena semua itu adalah hijab yang akan menutupi kesadaran kita terhadap Sang Maha Mengalirkan rasa itu kepada kita.
Ø Masuklah ke dalam kesadaran atas rasa melihat, rasa mendengar, dan rasa tahu itu.
Nanti kita akan dibawa kepada kesadaran baru bahwa semuanya itu ternyata adalah RASA MILIK ALAM. Oleh sebab itu jangan diaku. Ya…, semua ternyata adalah rasa melihat milik alam, rasa mendengar milik alam, rasa tahu milik alam. Yang ada adalah rasa alam semesta…!. Tegasnya…, yang ada adalah alam…!.
Ø Jangan mau berhenti di kesadaran alam semesta ini. Masuklah ke dalam kesadaran yang lebih dalam. Masuklah dengan niat, atau afirmasi bahwa:
ü Alam ini diadakan oleh Allah.
ü Ooo…, kalau begitu yang ada hanyalah alam dan Allah.
ü Alam adalah qodrat dari Allah.
ü Sehingga yang ada adalah qodrat Allah dan Allah.
ü Qodrat Allah kembalikan ke Allah
ü Sehingga yang tinggal, Yang ADA hanyalah ALLAH.
Ø Lalu tegaskanlah:
laa ilaha illallah
Ø Lalu bertasbihlah:
subhanallah
alhamdulillah
laa ilaha illallah
Allahu Akbar.
Laa haula wala quwwata illa billah.
Ø Lalu akan muncul pekikan HU…, HU…, HU…!
Ø Lalu akan muncul rasa patuh dan sujud sebagai seorang hamba kepada Allah.
Ø Lalu………….!,
Ø Lalu………….!.
Nah…, demikianlah sekilas saya mencoba menggambarkan secara verbal sebuah proses yang kalau dialami langsung akan jauh lebih dahsyat dari hanya sekedar bahasa tertulis seperti ini. Nah silahkanlah masuk sendiri-sendiri ke dalam suasana dan kesaksian seperti di atas. Maka anda akan menangguk manfaat yang tak terkirakan.
*Ainun Jariyah*.
Secara fitrah, segala sesuatu selalu punya kecenderungan untuk kembali kepada fitrah asalnya. Saripati tanah pastilah punya keinginan untuk kembali kepada tanah pula. Siapapun tidak akan bisa menolak bahwa saripati tanah yang boleh jadi bentuknya berbeda-beda, misalnya, dalam bentuk tubuh manusia, tubuh hewan, dan tanaman, pada saat yang tepat pastilah akan kembali menjadi tanah. MATI.
Oleh sebab itu untuk kembali membuka kesadaran kita kepada yang tidak sama dengan tanah, yang bukan tanah, maka janganlah coba-coba untuk membawa-bawa tanah itu menghadap kepada yang bukan tanah. Jangan bawa mata untuk melihat yang bukan tanah. Jangan bawa telinga untuk mendengar yang bukan tanah. Jangan bawa otak untuk memikirkan yang bukan tanah. Jangan bawa dada untuk merasakan yang bukan tanah. Karena mata, telinga, otak dan dada itu nanti akan sirna dimakan ulat dan belatung setelah semuanya itu ditanam kembali di dalam tanah, setelah semua itu tidak berfungsi. MATI.
Tapi jangan pula mata, telinga, otak dan dada itu dimatikan seperti ajaran mematikan dan menutup “hawa songo” dalam praktek kebatinan tertentu. Hanya lewati saja kesemuanya itu seperti lewatnya angin dan cahaya di udara terbuka yang tidak ada tumbuhan, tidak ada bangunan, tidak ada gunung yang menghalangi. Tanpa hambatan, tanpa tekanan. Atau RILEKS dalam bahasa populernya. Seperti rileksnya mata, telinga, otot, otak dan dada seorang bayi. Nggak susah kok untuk rilkes ini. Sudah rileks….???.
Kalau sudah, maka hampir secara otomatis kita akan mempunyai kesadaran bahwa kita ternyata meliputi seluruh Nafs atau diri kita. Lalu lupakan sajalah seluruh atribut dan fenomena Nafs itu. Lalu yang tinggal adalah SAYA, Sang MIN-RUHI, SANG BASHIRAH, SANG AKU DIRI.
Nah…, mari kita lanjutkan tentang bagaimana proses Sang Aku Diri ini luruh ke dalam pelukan Sang Aku Hakiki, ALLAH:
· Sekarang munculkan afirmasi atau niat, bahwa saya tidak tahu tentang Allah. Saya tidak tahu bagaimana cara sadar dan ingat kepada Allah (DZIKIRULLAH). Karena yang tahu tentang Allah adalah Allah sendiri. Lagi pula…, sudah sekian lamanya saya TERTUTUP oleh kecenderungan Nafs (Hawa un Nafs) untuk SADAR dang INGAT kepada ALLAH. Oleh sebab itu mulai saat ini, saat ini juga, tanamkanlah sebuah afirmasi atau niat yang kuat bahwa saya punya Tuhan yang Nama-Nya adalah ALLAH.
· Kemudian munculkan sebuah rasa ingin yang sangat kuat (jahadu) agar diajarkan oleh Allah tentang Allah sendiri.
“Allahumma ‘ala dzikrika”
Ya Allah dzikirkan saya, ingatkan dan sadarkan saya.
Ajarkan saya untuk bisa ingat dan sadar kepada-Mu.
Saya tidak bawa apa-apa selain hanya PENGETAHUAN bahwa Engkau Maha Meliputi Segala Sesuatu dan Engkau tidak sama dengan segala apapun juga”.
Kalau perlu ulangilah niat untuk ingin di tuntun oleh Allah ini dengan kerendahan hati yang amat sangat (tadarru’).
· Saya lalu mengucapkan langsung (tanpa perantara dan wasilah apapun) kepada Wajah Sang Maha Meliputi ungkapan persaksian dan shalawat sebagai berikut:
Bimillahirrahmanirrahim,
Asyhadu anlaa ilaaha illallah,
Wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad.
· Lalu panggil-panggillah Nama Sang Maha Meliputi itu dengan teguh:
Ya Allah…, Ya Rahman…!.
Ulangilah memanggil-manggil Ya Allah, Ya Rahman ini beberapa kali dengan kerendahan hati yang amat sangat, sampai nantinya muncul tarikan rohani kearah yang Maha Tinggi. Biasanya munculnya tarikan rohani ini tidaklah terlalu lama setelah kita memanggil-manggil Allah. Paling dalam hitungan menitan. Kalau dalam waktu 3 menit berselang belum juga muncul tarikan rohani ini, maka jangan diteruskan. Percuma saja. Karena kalau sudah lebih dari 3 menit tapi nggak ada tarikan rohani juga, maka yang muncul kemudian adalah fikiran kita. Kita mulai mikirin tentang bagaimana tarikan rohani itu, bagaimana direspon Tuhan, dan sebagainya. Kalau sudah begini maka istirahatlah sebentar, dan kemudian mulailah lagi dari awal.
· Kalau tarikan rohani itu muncul, maka jangan takut, jangan dilawan, dan jangan dipikirkan. Karena kalau takut, atau dilawan, atau dipikirkan, maka seketika itu juga tarikan itu akan lenyap. Sebenarnya tarikan rohani itu hanyalah sebuah pergerakan kesadaran kita saja dari kesadaran ketubuhan (Nafs) menuju kesadaran yang mengatasi Nafs menuju ketidakberhinggaan. Akan tetapi, dalam pergerakan kesadaran demi kesadaran itu kita seperti DITUNTUN. Jadi bukan karena usaha kita sendiri lagi. Tapi dituntun, ditarik. Nah…, ikuti sajalah tuntunan itu. Biasanya respon akibat dari adanya tuntunan itu adalah, dada kita berguncang, atau tepatnya diguncangkan dari dalam, sehingga kita bisa dibuat histeris, menangis dan bahkan tersungkur saking dahsyatnya tarikan rohani itu.
· Kemudian pada saatnya, respon dengan rasa ditariknya rohani kita itu akan berhenti dan berganti dengan munculnya rasa tenang, damai, luas yang dalam bahasa Al Qur’an disebut dengan TALINU (lihat Az Zumar 23).
· Dan bacalah, IQRA suasana tenang, damai, dan luas itu, karena disana sungguh sangat tidak terhingga ilmu pengetahuan maupun solusi dari berbagai persoalan. Di wilayah itu semuanya digeletakkan begitu saja oleh Allah untuk menunggu manusia-manusia yang mau otaknya dialiri fikiran Tuhan, yang mau dadanya dialiri oleh kehendak Tuhan. Ya…, manusia yang mau menjadikan dirinya sebagai wakil Tuhan, yang mau meneruskan tongkat estafet perjuangan Rasulullah. “Sedangkan untuk bekalnya…, semuanya dari-Ku”, kata Allah menjamin. Kita hanya tinggal memunguti bekal itu sesuai dengan kebutuhan.
· Lalu nikmatilah hasil dari IQRA (membaca) suasana per suasana itu dalam bentuk RASA MENGERTI .
Catatan:
Oleh sebab itu selalulah perkuat rasa mau belajar kepada Allah, berguru kepada Allah. Lalu tanamkan juga niat yang kuat bahwa saya akan IKUT MAU-NYA ALLAH. Sikap ini merupakan sikap dasar yang harus dimiliki oleh seseorang yang tidak tahu dan ingin menjadi tahu. Karena memang hanya inilah modal kita yang ada pada kita. Dengan sikap ini kita dituntun untuk SADAR PENUH kepada Tuhan. Kalau sudah sadar penuh kepada Allah, maka kita dengan senang hati akan ikut mau-Nya Allah. Dan kalau kita sudah ikut mau-Nya Allah maka kita akan dituntun dari satu keadaan ke keadaan lain, dari satu suasana ke suasana lain, dari satu pengetahuan ke pengetahuan lain. Bukankah tuntunan Tuhan ini yang selalu kita pohonkan dalam setiap shalat kita…?. Kita selalu mengeluhkan kepada Allah: “Iyyaka na’budu wa iyya ka NASTA’IN…?”. Tuntun saya ya Allah…!.
· Nah…, kalau suasana ajar mengajar antara seorang hamba dengan Sang Maha Guru, ALLAH, ini sudah bisa kita dapatkan, maka tinggal kita nikmati saja pemahaman-pemahaman yang lainnya, misalnya:
Ø Tuhan itu siapa..?.
Tuhan adalah yang Dzat Yang Maha Dahsyat, Sang Pencipta alam semesta dengan tidak sia-sia, bumi, matahari, bintang-bintang, tumbuhan, termasuk diri kita. Seluruh ciptaan-Nya bermanfaat, tidak ada yang sia-sia. Malaikat, bahkan iblis sekalipun akan bermanfaat bagi manusia. Deerrr…!, maka masukilah wilayah KESADARAN akan kedahsyatan Tuhan itu.
Ø Tuhan Maha Meliputi segala sesuatu.
Kita, tubuh kita juga diliputi Nya. Amati liputan Tuhan itu terhadap jantung, darah, paru-paru, otak, semuanya. Nafas kita juga diliputi oleh Tuhan. Amati kerja tuhan pada tubuh kita. Ternyata karsa, keinginan, kesibukan Tuhanlah yang bekerja atas semua yang ada di dalam tubuh kita itu. Seperti juga karsa Tuhan terhadap alam semesta. Deerrr…!. Masukilah wilayah KESADARAN akan kedahsyatan karsa Tuhan itu. Lalu histeris, terpana, terkapar, adalah sebuah keniscayaan saja.
Ø Sadari akan alam RASA melihat, alam RASA mendengar, alam RASA tahu, masuklah ke wilayah KESADARAN RASA-RASA itu tadi.
Nanti kita akan dibawa sadar, dituntun sadar bahwa ternyata yang melihat itu bukanlah mata saya, tapi ada rasa melihat yang mengalir melewati mata itu. Kita akan dibawa untuk sadar bahwa yang mendengar itu ternyata bukanlah telinga saya, tapi ada rasa mendengar yang mengalir melewati telinga itu. Kita akan disadarkan pula bahwa yang tahu itu bukanlah otak saya, tapi ada rasa tahu yang mengalir melewati otak saya. Begitu juga dengan rasa tenang, damai, dan bahagia. Ternyata semuanya itu hanya sekedar rasa yang dialirkan melewati dada saya. Amatilah semua alam rasa-rasa tadi itu. Karena disitu juga sangat kaya, melimpah ruah, dengan pengajaran dan tahu. Akan tetapi bagi yang mau masuk ke wilayah kearifan, maka semua pengajaran dan tahu tadi itu hanya akan dilihat dengan selayang pandang saja. Karena semua itu adalah hijab yang akan menutupi kesadaran kita terhadap Sang Maha Mengalirkan rasa itu kepada kita.
Ø Masuklah ke dalam kesadaran atas rasa melihat, rasa mendengar, dan rasa tahu itu.
Nanti kita akan dibawa kepada kesadaran baru bahwa semuanya itu ternyata adalah RASA MILIK ALAM. Oleh sebab itu jangan diaku. Ya…, semua ternyata adalah rasa melihat milik alam, rasa mendengar milik alam, rasa tahu milik alam. Yang ada adalah rasa alam semesta…!. Tegasnya…, yang ada adalah alam…!.
Ø Jangan mau berhenti di kesadaran alam semesta ini. Masuklah ke dalam kesadaran yang lebih dalam. Masuklah dengan niat, atau afirmasi bahwa:
ü Alam ini diadakan oleh Allah.
ü Ooo…, kalau begitu yang ada hanyalah alam dan Allah.
ü Alam adalah qodrat dari Allah.
ü Sehingga yang ada adalah qodrat Allah dan Allah.
ü Qodrat Allah kembalikan ke Allah
ü Sehingga yang tinggal, Yang ADA hanyalah ALLAH.
Ø Lalu tegaskanlah:
laa ilaha illallah
Ø Lalu bertasbihlah:
subhanallah
alhamdulillah
laa ilaha illallah
Allahu Akbar.
Laa haula wala quwwata illa billah.
Ø Lalu akan muncul pekikan HU…, HU…, HU…!
Ø Lalu akan muncul rasa patuh dan sujud sebagai seorang hamba kepada Allah.
Ø Lalu………….!,
Ø Lalu………….!.
Nah…, demikianlah sekilas saya mencoba menggambarkan secara verbal sebuah proses yang kalau dialami langsung akan jauh lebih dahsyat dari hanya sekedar bahasa tertulis seperti ini. Nah silahkanlah masuk sendiri-sendiri ke dalam suasana dan kesaksian seperti di atas. Maka anda akan menangguk manfaat yang tak terkirakan.
*Ainun Jariyah*.
*MERANGKAI KESADARAN AWAL…...*.
Apa sebenarnya makna yang terkandung dalam ungkapan man ‘arafa nafsahu faqod arafa robbahu barangsiapa mengenal bahwa dirinya adalah ketiadaan, dan tiada selain Dia, maka Ia telah mengenal TuhanNya, yakni Yang Maha Ada.. Mari kita duduk rileks sejenak untuk mengenal diri kita yang hakiki. Lakukanlah perubahan kesadaran sebagai berikut:
· Pejamkan sajalah mata dengan ringan. Kening nggak usah berkerut-kerut seperti orang yang sedang berpikir tentang sesuatu. Santai saja.
· Sadari ada kaki kita. Kalau belum bisa sadar cobalah pegang kaki itu. Oooo…, ada kaki saya yang berada dibawah saya. Diamlah beberapa saat untuk meyakini dan menyadari bahwa saya berbeda dengan kaki saya.
· Lalu sadari ada tangan kita, bahu kita. Kalau belum sadar cobalah pegang atau raba semua itu dengan lembut sambil membawa serta kesadaran kita ke tempat yang kita sentuh. Oooo…, ada tangan, ada bahu saya yang berada di bawah saya. Diam pulalah beberapa saat disana untuk meyakini dan menyadari bahwa saya benar-benar berbeda dengan tangan dan bahu saya.
· Kemudian coba sadar ada dada kita. Amati sajalah dada itu sebatas sadar akan akan keberadaan dada itu di bawah kita. Jangan masuk ke dalam dada itu. Karena kalau masuk ke sana nanti kita akan dihadang oleh berbagai fenomena yang terbolak balik, enak dan senang yang silih berganti. Nggak usah kita pedulikan dululah fenomena-fenomena itu. Gampang itu nanti.
· Kemudian dengan cara yang sama, sadari pulalah keberadaan mata, telinga, kepala dan otak kita. Oooo…, ternyata kesemuanya itu juga berada di bawah saya…!. Oooo…, saya bersaksi (syahid, syahadah) tentang ayat: “Bahkan pada manusia itu diatas dirinya (NAFS) ada yang tahu (BASHIRAH)”, adalah benar…!!!
· Ooo…, ternyata memang saya berada di atas semua instrumen saya, yaitu tubuh saya dengan segala tetek bengeknya yang berasal dari saripati tanah itu. Dan sayalah Sang Bashirah itu.
Dengan cara yang sangat sederhana seperti ini, ternyata kita bisa tahu tentang makna hakiki dari ungkapan man ‘arafa nafsahu, bahwa pada hahekatnya yang ada hanyalah SAYA dan DIRI SAYA. Ada RUH dan NAFS. Ada Bashirah yang tahu atas semua instrumen yang terdapat pada Nafs. Saya (Ruh) nyata sekali terpisah dengan diri saya (Nafs). Akan tetapi, walaupun terpisah saya tetap meliputi seluruh diri saya. Buktinya saya tetap tahu semua intrumen saya sampai detail. Saya bisa tahu ada instrumen saya yang sakit, yang patah, yang luka, yang tidak baik. Saya juga tahu saat ada anggota tubuh saya yang hilang. Misalnya, saya tetap tahu kalau tangan kanan saya diamputasi. Bahkan saya juga tahu segala rasa-rasa yang muncul pada diri saya seperti rasa kecewa, marah, benci, iri, pelit, medit, tidak khusyu’, tidak ikhlas, tidak sabar, dan rasa-rasa jahat lainnya seperti tahunya saya saat diri saya dilanda rasa senang, bahagia, cinta, ikhlas, khusyu’, sabar, dan berbagai rasa yang baik lainnya.
Akan tetapi saya dan tubuh saya ternyata tidak bersatu. Ya…, saya dan tubuh saya ternyata tidak bersatu seperti bersatunya merica, garam, bawang dan kentang dalam sebutir perkedel sehingga membentuk substansi yang lain sama sekali dari unsur-unsur pembentuknya. Tapi sayalah yang meliputi seluruh tubuh saya. TEGASNYA…, saya (Ruh) berada di luar dan sekaligus juga di dalam tubuh saya (NAFS).
Janganlah terlalu berlama-lama mengamati instrument kita tadi itu, terutama dada dan otak kita. Karena keduanya memang punya daya tarik dan kecenderungan (Hawa un Nafs) yang cepat sekali menarik-narik kita untuk tenggelam ke dalamnya. Kalau tidak percaya cobalah amati otak kita agak lama, maka dengan kecepatan yang pasti, kita akan ditarik pada file-file yang ada di dalamnya. Cepat sekali kita dibawa dari satu file ke file yang lainnya. Sehingga kalau kita tidak bisa keluar dari file-file fikiran itu, kita terhenti di satu atau beberapa file fikiran itu, misalnya tiga hari saja, maka kita akan menjadi orang yang susah tidur, atau sakit kepala, pusing dan sebagainya.
Begitu juga kalau kita terlalu lama mengamati dada kita, apalagi sampai ke detail-detailnya yang berupa lokasi-lokasi tertentu. Maka dengan cepat kita akan ditarik pula masuk ke dalamnya. Kita akan dibawa melalui berbagai rasa dan pemandangan yang sebenarnya sangatlah mengasyikkan. Akan tetapi kalau kita tidak tahu arah jalan keluarnya, maka kita akan disekap oleh rasa itu. Bisa berhari-hari sekapan perasaan itu melilit kita. Bahkan ada yang berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Cobalah kalau tak percaya…!!. Tapi sebelum mencobanya, sebaiknya kita tahu dulu jalan keluar dari sekapan dan lilitan perasaan itu. Mari kita coba meretas jalan keluar itu.
Begitu kita mampu menyadari bahwa, oooo…, ternyata saya yang hakiki adalah Ruh sedangkan Nafs hanyalah instrumen saya, maka saya harus mencari cantolan agar saya tidak terombang ambing kesana kemari oleh daya tarik kecenderungan Nafs tadi seperti yang sering kita alami selama ini. Coba…, sedang shalat saja, yang notabene saat itu kita tengah memuja Tuhan, ee…, kita masih saja bisa ditarik-tarik untuk menghadap kepada yang lain, misalnya, problem keseharian kita. Untuk bisa keluar dari tarikan kepada selain Allah itu maka kita haruslah mencari peta yang benar dan yang mampu mengantar kita untuk mengetahui arah cantolan atau tempat kembali kita yang sebenarnya. Peta itu adalah Al Qur’an yang kemudian detailnya termuat di berbagai Al Hadits.
Lalu saya sendiri mencoba untuk membolak balik Al Qur’an dan Al Hadits itu dengan penuh rasa keingintahuan saya untuk mendapatkan jawabannya. Dapat…!. “Innalilahi wa inna ilaihi raji’un, aku ini adalah dari dan milik Allah dan kepada-Nya aku harus kembali”, kata Tuhan saya memberi tahu saya dengan gamblangnya. Dan saya pun buru-buru menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya. Deeerrr…!. Maka dengan seketika itu juga saya langsung akan mengenal Tuhan saya, sehingga ungkapan “faqod arafa robbahu” benar-benar bisa menjadi tempat pemberhentian saya yang terakhir. Dalam segala hal…!!.
Jadi makna dari ungkapan man ‘arafa nafsahu faqod arafa robbahu itu sebenarnya sederhana sekali, yaitu “Innalilahi wa inna ilaihi raji’un”. Karena memang saya ternyata hanyalah semata-mata Ruh-Nya. Dari-Nya, milik-Nya. Sehingga tiada lagi nisbah kepadaku melainkan hanya kepada Dia.
Apa makna dari ungkapan ini…?. Mari kita lanjutkan perjalanan kita untuk membuka kembali kesadaran kita terhadap Allah setahap demi setahap. Karena kita memang saat ini sedang ter-cover. Akui sajalah bahwa kita ini memang sedang ter-cover. Jangan malu-malu. Saya juga sedang ter-cover kok…!.
*Ainun Jariyah*
Apa sebenarnya makna yang terkandung dalam ungkapan man ‘arafa nafsahu faqod arafa robbahu barangsiapa mengenal bahwa dirinya adalah ketiadaan, dan tiada selain Dia, maka Ia telah mengenal TuhanNya, yakni Yang Maha Ada.. Mari kita duduk rileks sejenak untuk mengenal diri kita yang hakiki. Lakukanlah perubahan kesadaran sebagai berikut:
· Pejamkan sajalah mata dengan ringan. Kening nggak usah berkerut-kerut seperti orang yang sedang berpikir tentang sesuatu. Santai saja.
· Sadari ada kaki kita. Kalau belum bisa sadar cobalah pegang kaki itu. Oooo…, ada kaki saya yang berada dibawah saya. Diamlah beberapa saat untuk meyakini dan menyadari bahwa saya berbeda dengan kaki saya.
· Lalu sadari ada tangan kita, bahu kita. Kalau belum sadar cobalah pegang atau raba semua itu dengan lembut sambil membawa serta kesadaran kita ke tempat yang kita sentuh. Oooo…, ada tangan, ada bahu saya yang berada di bawah saya. Diam pulalah beberapa saat disana untuk meyakini dan menyadari bahwa saya benar-benar berbeda dengan tangan dan bahu saya.
· Kemudian coba sadar ada dada kita. Amati sajalah dada itu sebatas sadar akan akan keberadaan dada itu di bawah kita. Jangan masuk ke dalam dada itu. Karena kalau masuk ke sana nanti kita akan dihadang oleh berbagai fenomena yang terbolak balik, enak dan senang yang silih berganti. Nggak usah kita pedulikan dululah fenomena-fenomena itu. Gampang itu nanti.
· Kemudian dengan cara yang sama, sadari pulalah keberadaan mata, telinga, kepala dan otak kita. Oooo…, ternyata kesemuanya itu juga berada di bawah saya…!. Oooo…, saya bersaksi (syahid, syahadah) tentang ayat: “Bahkan pada manusia itu diatas dirinya (NAFS) ada yang tahu (BASHIRAH)”, adalah benar…!!!
· Ooo…, ternyata memang saya berada di atas semua instrumen saya, yaitu tubuh saya dengan segala tetek bengeknya yang berasal dari saripati tanah itu. Dan sayalah Sang Bashirah itu.
Dengan cara yang sangat sederhana seperti ini, ternyata kita bisa tahu tentang makna hakiki dari ungkapan man ‘arafa nafsahu, bahwa pada hahekatnya yang ada hanyalah SAYA dan DIRI SAYA. Ada RUH dan NAFS. Ada Bashirah yang tahu atas semua instrumen yang terdapat pada Nafs. Saya (Ruh) nyata sekali terpisah dengan diri saya (Nafs). Akan tetapi, walaupun terpisah saya tetap meliputi seluruh diri saya. Buktinya saya tetap tahu semua intrumen saya sampai detail. Saya bisa tahu ada instrumen saya yang sakit, yang patah, yang luka, yang tidak baik. Saya juga tahu saat ada anggota tubuh saya yang hilang. Misalnya, saya tetap tahu kalau tangan kanan saya diamputasi. Bahkan saya juga tahu segala rasa-rasa yang muncul pada diri saya seperti rasa kecewa, marah, benci, iri, pelit, medit, tidak khusyu’, tidak ikhlas, tidak sabar, dan rasa-rasa jahat lainnya seperti tahunya saya saat diri saya dilanda rasa senang, bahagia, cinta, ikhlas, khusyu’, sabar, dan berbagai rasa yang baik lainnya.
Akan tetapi saya dan tubuh saya ternyata tidak bersatu. Ya…, saya dan tubuh saya ternyata tidak bersatu seperti bersatunya merica, garam, bawang dan kentang dalam sebutir perkedel sehingga membentuk substansi yang lain sama sekali dari unsur-unsur pembentuknya. Tapi sayalah yang meliputi seluruh tubuh saya. TEGASNYA…, saya (Ruh) berada di luar dan sekaligus juga di dalam tubuh saya (NAFS).
Janganlah terlalu berlama-lama mengamati instrument kita tadi itu, terutama dada dan otak kita. Karena keduanya memang punya daya tarik dan kecenderungan (Hawa un Nafs) yang cepat sekali menarik-narik kita untuk tenggelam ke dalamnya. Kalau tidak percaya cobalah amati otak kita agak lama, maka dengan kecepatan yang pasti, kita akan ditarik pada file-file yang ada di dalamnya. Cepat sekali kita dibawa dari satu file ke file yang lainnya. Sehingga kalau kita tidak bisa keluar dari file-file fikiran itu, kita terhenti di satu atau beberapa file fikiran itu, misalnya tiga hari saja, maka kita akan menjadi orang yang susah tidur, atau sakit kepala, pusing dan sebagainya.
Begitu juga kalau kita terlalu lama mengamati dada kita, apalagi sampai ke detail-detailnya yang berupa lokasi-lokasi tertentu. Maka dengan cepat kita akan ditarik pula masuk ke dalamnya. Kita akan dibawa melalui berbagai rasa dan pemandangan yang sebenarnya sangatlah mengasyikkan. Akan tetapi kalau kita tidak tahu arah jalan keluarnya, maka kita akan disekap oleh rasa itu. Bisa berhari-hari sekapan perasaan itu melilit kita. Bahkan ada yang berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Cobalah kalau tak percaya…!!. Tapi sebelum mencobanya, sebaiknya kita tahu dulu jalan keluar dari sekapan dan lilitan perasaan itu. Mari kita coba meretas jalan keluar itu.
Begitu kita mampu menyadari bahwa, oooo…, ternyata saya yang hakiki adalah Ruh sedangkan Nafs hanyalah instrumen saya, maka saya harus mencari cantolan agar saya tidak terombang ambing kesana kemari oleh daya tarik kecenderungan Nafs tadi seperti yang sering kita alami selama ini. Coba…, sedang shalat saja, yang notabene saat itu kita tengah memuja Tuhan, ee…, kita masih saja bisa ditarik-tarik untuk menghadap kepada yang lain, misalnya, problem keseharian kita. Untuk bisa keluar dari tarikan kepada selain Allah itu maka kita haruslah mencari peta yang benar dan yang mampu mengantar kita untuk mengetahui arah cantolan atau tempat kembali kita yang sebenarnya. Peta itu adalah Al Qur’an yang kemudian detailnya termuat di berbagai Al Hadits.
Lalu saya sendiri mencoba untuk membolak balik Al Qur’an dan Al Hadits itu dengan penuh rasa keingintahuan saya untuk mendapatkan jawabannya. Dapat…!. “Innalilahi wa inna ilaihi raji’un, aku ini adalah dari dan milik Allah dan kepada-Nya aku harus kembali”, kata Tuhan saya memberi tahu saya dengan gamblangnya. Dan saya pun buru-buru menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya. Deeerrr…!. Maka dengan seketika itu juga saya langsung akan mengenal Tuhan saya, sehingga ungkapan “faqod arafa robbahu” benar-benar bisa menjadi tempat pemberhentian saya yang terakhir. Dalam segala hal…!!.
Jadi makna dari ungkapan man ‘arafa nafsahu faqod arafa robbahu itu sebenarnya sederhana sekali, yaitu “Innalilahi wa inna ilaihi raji’un”. Karena memang saya ternyata hanyalah semata-mata Ruh-Nya. Dari-Nya, milik-Nya. Sehingga tiada lagi nisbah kepadaku melainkan hanya kepada Dia.
Apa makna dari ungkapan ini…?. Mari kita lanjutkan perjalanan kita untuk membuka kembali kesadaran kita terhadap Allah setahap demi setahap. Karena kita memang saat ini sedang ter-cover. Akui sajalah bahwa kita ini memang sedang ter-cover. Jangan malu-malu. Saya juga sedang ter-cover kok…!.
*Ainun Jariyah*
* Ibnu Sina: Tentang Ruh *.
Ia (Ruh) turun kepadamu (hai tubuh manusia) dari tempat yang tinggi.
(Bagaikan) merpati enggan dan menghindar.
Terselubung terhadap pelupuk setiap pemandang
Padahal ia yang membuka wajah dan tanpa cadar
Ia tiba kepadamu dengan terpaksa dan mungkin enggan berpisah kendati ia penuh keluhan
Enggan dan tidak senang (menyatu denganmu) tetapi begitu menyatu
Akhirnya terbiasa, bersanding dengan kebobrokan yang kumuh
Kuduga ia lupa janji-janjinya ketika ia berada di alamnya yang tinggi
Ia menangis bila mengingat janji-janji di alamnya yang luhur
Mencucurkan air mata, deras, tiada henti
Ia pun terus berkicau menangisi puing-puing
Yang telah runtuh oleh kisaran angin dari empat penjuru
Itu karena ia terhalangi oleh jeratan yang kuat dan dibendung
Oleh sangkar, sehingga tak lepas ke angkasa luas
Hingga jika telah mendekat jalan menuju asalnya...
Mendekat pula saat ia berpisah ke angkasa yang luas
Lalu berangkat berpisah dengan semua yang ditinggal
Ditinggal remeh bersama tanah...dan tanpa berpamit
Ketika itu, mendadak dibuka tabir, dan terlihatlah. ..
Apa yang tak terjangkau mata (dan) yang (tak) disentuh kantuk
Ia pun berkicau di atas puncak yang amat tinggi
Begitulah ilmu, meninggikan semua yang belum tinggi
(Mungkin ada yang bertanya, apakah ruh gembira dengan kepulangannya? )
Nah, mengapa ia diturunkan dari tempat yang tinggi?
Menuju kedalaman yang sangat rendah dan hina?
Ia diturunkan Tuhan, untuk suatu hikmah
Yang tidak terjangkau oleh cendekia yang sangat bijak!
Tak pelak lagi, turunnya adalah keniscayaan
Agar menjangkau apa yang belum dijangkaunya
Guna meraih semua rahasia, rahasia kedua alam
Sobekan bajunya tak perlu dijahit
Masa menghadang perjalanannya, kendati demikian,
Ia terbenam, tidak serupa ketika terbitnya
Ia seakan kilat, cemerlang di bentengnya yang tinggi
Lalu redup, menghilang bagai tak pernah berkilau...
Ibnu Sina.
**Ainun Jariyah**
Ia (Ruh) turun kepadamu (hai tubuh manusia) dari tempat yang tinggi.
(Bagaikan) merpati enggan dan menghindar.
Terselubung terhadap pelupuk setiap pemandang
Padahal ia yang membuka wajah dan tanpa cadar
Ia tiba kepadamu dengan terpaksa dan mungkin enggan berpisah kendati ia penuh keluhan
Enggan dan tidak senang (menyatu denganmu) tetapi begitu menyatu
Akhirnya terbiasa, bersanding dengan kebobrokan yang kumuh
Kuduga ia lupa janji-janjinya ketika ia berada di alamnya yang tinggi
Ia menangis bila mengingat janji-janji di alamnya yang luhur
Mencucurkan air mata, deras, tiada henti
Ia pun terus berkicau menangisi puing-puing
Yang telah runtuh oleh kisaran angin dari empat penjuru
Itu karena ia terhalangi oleh jeratan yang kuat dan dibendung
Oleh sangkar, sehingga tak lepas ke angkasa luas
Hingga jika telah mendekat jalan menuju asalnya...
Mendekat pula saat ia berpisah ke angkasa yang luas
Lalu berangkat berpisah dengan semua yang ditinggal
Ditinggal remeh bersama tanah...dan tanpa berpamit
Ketika itu, mendadak dibuka tabir, dan terlihatlah. ..
Apa yang tak terjangkau mata (dan) yang (tak) disentuh kantuk
Ia pun berkicau di atas puncak yang amat tinggi
Begitulah ilmu, meninggikan semua yang belum tinggi
(Mungkin ada yang bertanya, apakah ruh gembira dengan kepulangannya? )
Nah, mengapa ia diturunkan dari tempat yang tinggi?
Menuju kedalaman yang sangat rendah dan hina?
Ia diturunkan Tuhan, untuk suatu hikmah
Yang tidak terjangkau oleh cendekia yang sangat bijak!
Tak pelak lagi, turunnya adalah keniscayaan
Agar menjangkau apa yang belum dijangkaunya
Guna meraih semua rahasia, rahasia kedua alam
Sobekan bajunya tak perlu dijahit
Masa menghadang perjalanannya, kendati demikian,
Ia terbenam, tidak serupa ketika terbitnya
Ia seakan kilat, cemerlang di bentengnya yang tinggi
Lalu redup, menghilang bagai tak pernah berkilau...
Ibnu Sina.
**Ainun Jariyah**
Minggu, 15 Januari 2012
*Hati sebagai Wadah Perwujudan Kelebihan Allah*.
Definisi :
Hati menurut ilmu kedokteran adalah darah hitam yang beku mempunyai bentuk tersendiri letaknya disebelah kiri dada (Heart) berfungsi sebagai penetral darah. Tetapi Imam Al Gazali tidak berbicara tentang bentuk dan fungsinya menurut ilmu kedokteran hanya berbicara menurut pandangan ilmu kebathinan (Tasauf). Hati menurut pandangan Tasauf adalah unsur halus yang bersifat ke-Tuhanan dan metafisik yang berada pada bentuk hati yang bersifat jasmani.
Lima Pokok Fungsi Hati
1. Allah Mengetahui Hati Manusia
" Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada didalam hati mereka " (QS. Annisa:62).
" Dia mengetahui ( pandangan ) mata yang khianat dan apa yang tersembunyikan oleh hati mereka " (QS.Al Mu'min:19).
Manusia hanya dapat memandang sesuatu secara zhahir (nyata) saja tidak dapat menembus apa yang ada dalam hati, maka manusia sering kali tertipu dengan penampilan atau fatamorgana yang sebenarnya menurut pandangan Allah adalah berlainan. Niat dan Prasangka (Zhon) yang menjadi Barometer Allah dalam menilai baik dan buruknya manusia.
Sabda Nabi: " Amal itu hanya tergantung dengan niat " (HR. Bukhari-Muslim).
" Niat seorang mu'min untuk nilai amalnya " (HR. Abu Daud).
" Aku tergantung prasangka hambaKu kepadaKu dan Aku beserta hambaKu apabila ia berzikir kepadaKu " (HR. Bukhari).
2. Tempat Pemandangan Allah
"Sesungguhnya Allah tidak memandang pada rupa dan tubuh kamu dan tidak pada harta kamu, tetapi Allah memandang hati dan amal kamu" (HR.Muslim).
Al Gazali berkata: " Saya heran manusia sangat mengutamakan kebersihan dan keindahan tubuh sedangkan hatinya tidak mereka bersihkan dari kotoran-kotoran bathin dan maksiat, padahal Allah hanya memandang hati mereka sebagaimana firman Allah " (QS. Asy-Syams:7-10).
3. Hati Sebagai Penggerak Jiwa dan Semua Anggota Tubuh
Hati di ibaratkan sebagai tuan dan jasad adalah budaknya atau sebagai pemimpin yang mengatur rakyatnya atau sebagai pemilik sesuatu yang dapat melakukan apa saja terhadap yang dimilikinya. Jadi hati adalah pemula yang mengatur dan menggerakkan semua aktivitas anggota tubuh. Jika hati baik maka akan baik pula kelakuan anggota tubuhnya sebaliknya jika hati buruk maka buruk pula kelakuan anggota tubuh dan gerakan hati atas Irodat Allah.
Sabda Nabi: " Sesungguhnya didalam jasad manusia ada segumpal darah apabila segumpal darah itu baik maka baik pula sekalian anggota tubuh sebaliknya, apabila buruk maka buruk pula anggotanya, ketahuilah yaitu hati " (HR. Bukhari-Muslim).
4. Hati adalah Wadah untuk Menampung Keistemewaan Allah
Kelebihan Allah yang diberikan kepada manusia tertampung dalam wadah yang mulia yaitu hati. Kelebihan Allah yang ada pada hati manusia adalah akal, Bashiroh (Mata bathin), Niat, Pengetahuan Ilahi / Hikmah dan yang tertinggi adalah Ma'rifat.
> Keutamaan Akal
Akal adalah anggota tubuh yang dapat mengetahui segala hakikat sesuatu secara Rasional dan dapat mempertimbangkan sesuatu yang benar dan yang salah, akal hanya dapat mengetahui hal-hal yang Empiris dan rasional, akal berfungsi berdasarkan gerakan hati. Keputusan akal sering bertentangan dengan kemauan hawa nafsu, karena hawa nafsu selalu mengajak kepada hal yang buruk, akal mempertimbangkan akibat baik atau buruknya.
" Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui " (QS. Al Baqarah:216)
> Keutamaan Bashiroh
Bashiroh lebih dikenal dengan istilah mata Bathin atau indra keenam dari indra manusia yang lima. Bashiroh menurut ahli tasauf adalah kekuatan yang ada pada hati dengan cahaya Allah yang dapat melihat sesuatu yang zhahir dan yang bathin. Setiap manusia mempunyai Bashiroh yang dapat difungsikan dengan mempelajari ilmu kebatinan dan dilatih untuk melihat sesuatu yang metafisik dengan cara gaib. Misalnya mendeteksi penyakit yang ada dalam tubuh manusia atau meneropong sesuatu yang telah lalu hilang tanpa diketahui keberadaannya.
" Barangsiapa melihat kebenaran maka ( manfaatnya ) bagi dirinya sendiri dan barangsiapa buta maka kemudharatannya kembali kepadanya " (QS. Al An'am:104)
> Keutamaan Niat
Niat adalah maksud mengerjakan sesuatu disertai dengan pekerjaan, seperti, Niat shalat disertai dengan Takbiratul ihram. Tempat niat adalah di dalam hati oleh karenanya niat mempunyai fungsi utama didalam ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak sah ibadah yang tidak disertai dengan niat.
" Amal itu hanya tergantung dengan niat dan sesungguhnya amal setiap orang sesuai dengan apa yang diniatkannya " (HR. Bukhari-Muslim)
> Keutamaan Hikmah
" Allah menganugerahkan al Hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahkan al Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran " (QS. al Baqarah:269). Al Hikmah adalah kesempurnaan jiwa seorang dalam pengetahuan sesuatu rahasia dan hukum Allah. Seseorang yang diberikan Allah Hikmah maka ia adalah manusia yang luar biasa karena dapat mengetahui rahasia-rahasia Allah.
> Keutamaan Ma'rifat
Ma'rifat adalah mengenal yang hak pada segala Asma dan sifatNya dengan sebenar-benarnya. Ma'rifat adalah keistimewaan yang tertinggi yang ada pada hati, karena seseorang yang sudah ma'rifat hubungan antaranya dan Allah sudah sangat dekat dan harmonis hingga dirinya menyatu dengan Allah, sifatnya adalah sifat Allah dan semua aktivitasnya adalah qudrat Allah.
" Siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya " (al Hadits). Abu Ali Addaqaq berkata: " Kehidupan orang yang Arif selalu tenang tidak ada rasa takut atau bersedih hati dan tingkah lakunya menunjukkan kehebatan Allah ".
5. Hati Mempunyai Lima Kelebihan Yang Tidak Ada Pada Anggota Tubuh yang lain
Tempat persaingan iman dan syaitan untuk menguasai
Pengendali gerakan akal dan hawa nafsu
Penggerak anggota tubuh
Obat untuk memperbaiki hati sangat sulit
Banyak penyakit hati
Pengetahuan hati lebih utama dibanding pengetahuan akal atau panca indra, karena pengetahuan akal atau indra obyeknya terbatas hanya bersifat Empiris dan Rasional dan sering tertipu oleh obyek yang sedang diamati atau bersifat Spekulatif yang sering mengundang kontradiksi diantara para ilmuwan. Pengetahuan hati mempunyai tiga kelebihan:
Pengetahuan hati tidak terbatas pada sesuatu yang bersifat Empiris dan Rasional tetapi dapat mengetahui sesuatu yang Metafisik dan yang maha
Muthlak.
Pengetahuan hati dibimbing oleh Ilahi dengan Wahyu, Intuisi dan Hidayah.
Hati tempat penilaian Tuhan untuk semua amal manusia.
*Ainun Jariyah*.











